Beranda Lingkungan Ikan Buaya dan Ikan Cupang Dimusnahkan

Ikan Buaya dan Ikan Cupang Dimusnahkan

BERBAGI
Petugas memperlihatkan ikan aligator atau ikan buaya di Kantor Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu di Blangbintang, Aceh Besar, Kamis (14/3). Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Aceh memusnahkan ikan aligator karena merupakan ikan invansif atau berbahaya.

“Ikan aligator tersebut tidak hanya memangsa ikan setempat, tetapi juga memakan sumber makanan ikan lokal. Ikan aligator ini bukan asli Aceh, tetapi berasal Amazon, dari Amerika Latin”

BANDA ACEH – Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Aceh memusnahkan ikan aligator gar atau biasa disebut ikan buaya karena merupakan ikan berbahaya dan bukan asli perairan setempat.

Pemusnahan ikan asal Amerika Latin tersebut dipusatkan di Kantor Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Aceh di kawasan Blangbintang, Aceh Besar, Kamis (14/3).

“Pemusnahan ikan tersebut dilakukan dengan jalan dibakar. Sebelum dibakar, ikan tersebut dimatikan terlebih dahulu,” kata Kepala Subseksi Pengawasan Data dan Informasi Kantor Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Aceh Silvia Wijaya.

Ikan aligator yang dimusnahkan tersebut merupakan penyerahan dari pecinta ikan di Banda Aceh Pemiliknya membeli ikan tersebut dari luar negeri sejak kecil dengan ukuran sekitar 10 sentimeter dan kini tumbuh lebih dari satu meter.

Menurut Silvia Wijaya, ikan aligator tersebut dimuskankan karena termasuk ikan invasif atau berbahaya. Jika ikan tersebut lepas di perairan, maka dipastikan ikan-ikan lainnya yang merupakan asli Aceh musnah dalam waktu singkat.

“Ikan aligator tersebut tidak hanya memangsa ikan setempat, tetapi juga memakan sumber makanan ikan lokal. Ikan aligator ini bukan asli Aceh, tetapi berasal Amazon, dari Amerika Latin,” sebut Silvia Wijaya.

Selain ikan aligator, Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Aceh juga memusnahkan 12 ekor ikan betta atau ikan cupang yang biasa juga disebut ikan laga.

Silvia Wijaya mengatakan, ikan betta tersebut diamankan di Bandara Sultan Iskandar Muda yang dikirim melalui jasa pengiriman barang dari Belawan, Sumatera Utara.

“Namun, pemilik ikan tidak mengurus dokumen karantina. Berdasarkan aturan, jika tiga hari tidak mengurus dokumen karantina, maka ikan betta tersebut wajib disita,” sebut Silvia Wijaya.

Silvia Wijaya menegaskan, ikan betta tersebut juga dimusnahkan karena termasuk jenis ikan berbahaya. Ikan betta mengandung virus mematikan jika tertular ikan setempat.

“Ikan betta ini juga bukan ikan asli Aceh. Jika ikan ini lepas ke perairan umum, maka dalam waktu singkat, ikan setempat akan musnah karena dimangsa,” kata Silvia Wijaya. (RA-AO12)

BERBAGI