Beranda Nanggroe Pemerintah Diminta Umumkan Hasil Penelitian Semburan Gas di Aceh Utara

Pemerintah Diminta Umumkan Hasil Penelitian Semburan Gas di Aceh Utara

BERBAGI
Anggota DPRA Tgk. Muharuddin saat meninjau lokasi semburan gas di Aceh Utara. [Foto: Istimewa]

JAMBO AYE – Anggota DPR Aceh Tgk. Muharuddin meminta pemerintah melalui tim teknis dari instansi terkait agar segera mengumumkan hasil penelitian terkait sumur bor yang menyemburkan gas bercampur lumpur di Aceh Utara. Pengumuman ini penting untuk mengetahui penyebab kejadian serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya.

“Semburan gas yang bercampur lumpur di lokasi memang sudah berhenti, namun masyarakat masih khawatir karena belum adanya pernyataan resmi dari pemerintah terkait hasil uji lab. Masyarakat di sekitar lokasi masih was-was dan merasa resah saat berada di rumah, apalagi sebagian sumur warga sampai hari ini masih memunculkan gelembung atau buih dengan bau yang menyengat pasca semburan gas dan lumpur itu,” kata Tgk Muharuddin saat meninjau kondisi di sekitar lokasi, Minggu sore (3/2/2019).

Seperti diketahui, masyarakat Desa Tanjong Minje, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, pada 23 Januari lalu dibuat gempar. Pasalnya galian sumur bor warga di Desa itu meledak dan mengeluarkan semburan gas dan lumpur yang mencapai ketinggian 10 meter lebih. Peristiwa tersebut terjadi pada pada Rabu (23/01) pagi saat pemilik kebun, Aris Munandar (20), melakukan pengeboran sumur bor untuk penyiraman tanaman kebunnya.

Sebelumnya pemerintah melalui instansi terkait telah menurunkan tim ahli dari Bandung ke lokasi untuk melakukan penelitan. Namun sejauh ini uji sampel dari semburan gas dan lumpur tersebut belum dirilis. Menurut mantan Ketua DPR Aceh tersebut, hasil penelitian terkait peristiwa ini perlu segera diumumkan supaya ada kejelasan dan keterangan bagi warga sekitar.

“Pihak berwenang dari Pemerintah Aceh telah menurunkan tim ahli dari Bandung ke lokasi untuk melakukan penelitian, tapi sampai hari ini hasil leb belum juga diumumkan. Saya pikir hasil leb harus segera diumumkan, agar ada kejelasan dan ketenangan bagi warga sekitar,” tegas Muharuddin, usai mendengar keluh kesah dari warga sekitar.

“Bila pun masih dalam tahap uji lab, Pemerintah Aceh melalui instansi terkait juga perlu menyampaikan ke publik sebagai informasi bagi masyarakat,” pungkasnya.

Kesulitan Air Bersih

Beberapa kepala keluarga yang rumahnya berada di sekitar lokasi saat ini mengeluh perihal kesulitan air bersih untuk dikonsumsi, keperluan mandi dan lain sebagainya. Pasalnya, pasca semburan gas dan lumpur tersebut, beberapa sumur warga telah tercemar dan menimbulkan gelembung dengan bau yang menyengat.

Karenanya, disamping menunggu kejelasan dari pemerintah perihal kejadian tersebut, beberapa kepala keluarga juga berharap agar pemerintah memfasilitasi ketersedian air bersih, karena air sumur mereka tidak bisa lagi dikonsumsi atau keperluan lainnya.

“Air sumur saya tidak bisa lagi digunakan karena sudah tercemar. Beberapa warga lainnya juga mengalami hal yang sama. Untuk keperluan minum, mandi dan lain sebagainya, saya harus mengambil ke sumur warga yang rumahnya lebih jauh dari lokasi. Kami berharap pemerintah bisa memfasilitasi ketersedian air bersih ini,” curhat M. Nadir saat didatangi Tgk Muharuddin. Nadir merupakan salah satu warga yang sumurnya telah tercemar dan menimbulkan buih dengan bau yang menyengat.

Terkait keluhan warga tersebut, Tgk Muharuddin mengharapkan agar Pemerintah Aceh Utara memfasilitasi ketersediaan air bersih demi kelangsungan hajat hidup mereka.

“Pemerintah harus memfasilitasi ketersedian air bersih terhadap beberapa kepala keluarga, ini penting karena menyangkut hajat hidup mereka,” pungkas Politisi Partai Aceh tersebut yang kini maju sebagai Caleg DPR RI Partai NasDem nomor urut 2 Dapil Aceh 2.

Kondisi terakhir bekas semburan gas di Jambo Aye Aceh Utara. [Foto: Istimewa]
Untuk informasi, kondisi terkahir lokasi semburan gas dan lumpur saat ini terlihat seperti kubangan besar, dimana beberapa meter di sekelilingnya terdapat tumpukan lumpur yang mulai mengering, sejumlah pohon yang ada di sekitarnya juga sudah mati dengan balutan lumpur yang pekat.

Pada 31 Januari lalu, sejumlah kepala keluarga yang sebelumnya harus mengungsi telah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Namun saat ini mereka masih dilarang menghidupkan api untuk mengasapi dapur rumahnya hingga adanya keterangan resmi dari pemerintah atau keluarnya hasil uji laboratorium tim ahli dari Bandung. [RILIS]

BERBAGI