Beranda Hukum Dua Terpidana Korupsi Damkar di Aceh Menyerahkan Diri ke Jaksa

Dua Terpidana Korupsi Damkar di Aceh Menyerahkan Diri ke Jaksa

BERBAGI
Damkar Aceh seharga Rp 17 miliar lebih. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Dua terpidana korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar) dengan kerugian negara Rp4,7 miliar akhirnya menyerahkan diri ke Kantor Kejaksaan Negeri Banda Aceh.

Kepala Kejaksaan Negeri Banda Aceh Erwin Desman melalui Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Banda Aceh Iskandar di Banda Aceh, Selasa (29/1/2019), mengatakan keduanya menyerahkan diri setelah kejaksaan melayangkan surat eksekusi.

“Kedua terpidana menyerahkan diri setelah mendatangi kejaksaan didampingi kuasa hukumnya pada Jumat, 25 Januari lalu. Sebelumnya, kami sudah melayangkan surat eksekusi kepada mereka,” kata Iskandar.

Kedua terpidana korupsi yang menyerahkan diri tersebut yakni Dheny Octa Priazi bin Sugito dan Ratziaty Yusri binti M Yunus Muhammad. Kedua terpidana merupakan ibu dan anak.

Terpidana Dheny Octa Priadi merupakan Direktur Utama PT Dezan. Sedangkan Ratziaty Yusri menjabat Komisaris Utama PT Dezan. PT Dezan merupakan perusahaan pengadaan mobil pemadam kebakaran senilai Rp17,5 miliar.

Iskandar menyebutkan, terpidana Dheny Octa Priadi divonis berdasarkan putusan Mahkamah Agung dengan hukuman tujuh tahun penjara. Terpidana Dheny Octa juga dihukum membayar denda Rp200 juta subsidair enam bulan penjara.

Terpidana Dheny Octa juga dihukum membayar uang pengganti Rp4,7 miliar. Jika terpidana tidak memiliki harta dan tidak membayar uang pengganti, maka dihukum tiga tahun penjara.

“Sedangkan terpidana Ratziati Yusri dihukum lima tahun penjara. Terpidana juga dihukum membayar denda Rp200 juta subsidair membayar denda. Terpidana Ratziati tidak dihukum membayar uang pengganti,” kata Iskandar.

Iskandar menyebutkan, terpidana Dheny Octa Priadi dieksekusi ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banda Aceh. Sedangan terpidana Ratziaty dieksekusi ke Cabang Rutan Wanita Lhoknga, Aceh Besar.

“Dalam kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran ini ada empat terpidana. Selain dua terpidana yang menyerahkan diri tersebut, dua terpindana lainnya sudah dieksekusi,” pungkas Iskandar.

Pengadaan mobil pemadam kebakaran ini berawal dari surat Wali Kota Banda Aceh kepada Gubernur Aceh pada tahun 2013. Wali Kota Banda Aceh waktu itu Mawardy Nurdin meminta bantuan pembelian mobil pemadam kebakaran bertangga dan berteknologi modern.

Pada tahun anggaran 2014, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh melakukan pengadaan mobil pemadam kebakaran yang memiliki tangga 30 meter. Anggaran pengadaan mencapai Rp17,5 miliar yang bersumber dari APBA.

SUMBER: Antara Aceh

BERBAGI