Beranda Nanggroe Peneliti Ingatkan Potensi Gempa Besar Magnitudo 7.0 di Aceh

Peneliti Ingatkan Potensi Gempa Besar Magnitudo 7.0 di Aceh

BERBAGI
Wilayah Aceh Dilihat dari satelit. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Kota Banda Aceh dan sekitarnya diapit oleh dua sesar patahan Sumatera yang masih aktif. Patahan ini yaitu segmen Aceh dan Seulimum yang rentan gempa.

Secara tatanan tektonik dan kondisi geologi, Banda Aceh duduk di atas cekungan yang berumur Holosen (10.000 tahun) dan sangat muda berdasarkan umur geologi. Para geologis menyebutkan cekungan Krueng Aceh. Cekungan Krueng Aceh membentang dari kawasan Aceh Besar sampai ke Banda Aceh.

Cekungan Krueng Aceh yang berumur muda ini terbentuk dari endapan alluvial yang terdiri dari kerikil, pasir, lanau, dan lempung. Kelunakan endapan alluvial muda ini akan menyebabkan penguatan goncangan tanah (amplifikasi) gelombang gempa bumi.

Peneliti Tsunami Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) pada Universitas Syiah Kuala, Mukhsin Umar, menyebutkan patahan itu terbentang dari Teluk Semangko di Lampung sampai ke provinsi Aceh. Patahan segmen Aceh memanjang dari Tangse sampai ke Indrapuri, Mata Ie, Pulau Breueh, dan Pulau Nasi.

Sedangkan segmen Seulimeum, dimulai dari Seulimeum-Krueng Raya-Sabang. Segmen Aceh ini, kata Mukhsin, sudah 170 tahun tidak menghasilkan gempa bumi. Jika suatu saat terjadi gempa, potensi getarannya berkisar magnitudo 7.0.

“Kita harus menyiagakan diri. Bukan menakuti tapi apa pun yang terjadi harus kami beritahukan agar masyarakat tetap waspada,” kata Mukhsin saat menjelaskan dua segmen sesar yang masih aktif, di Aula Badan Penanggulangan Bencana Aceh, kemarin.

Melihat potensi gempa bumi yang mampu dihasilkan oleh kedua segmen itu, bagaimana dampaknya terhadap Banda Aceh? Dia mencoba membuat model gempa dari segmen Aceh dan Seulimeum dan memprediksi kerusakan bangunan yang akan terjadi di Banda Aceh dan jumlah korban luka-luka.

Apabila gempa bumi dengan magnitudo 7 bersumber dari segmen Aceh, diperkirakan masing-masing bangunan di kota Banda Aceh akan mengalami kerusakan antara 40 persen sampai 80 persen.

Namun jika gempa dengan magnitudo 7 bersumber dari segmen Seulimeum, maka masing-masing bangunan akan mengalami kerusakan antara 20 persen sampai 60 persen.

“Apabila gempa bumi yang bersumber dari segmen Aceh atau Seulimeum terjadi pada malam hari, maka korban yang paling banyak terdapat di kawasan-kawasan permukiman padat penduduk,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), T Ahmad Dadek.

Selanjutnya Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, berada pada posisi kedua yang terdampak parah, dan kecamatan Baiturrahman berada pada posisi ketiga apabila gempa berasal dari patahan Sumatera segmen Aceh.

“Hasil dari penelitian ini merupakan perkiraan dengan kondisi terburuk, dan semoga saja kita selalu siap ketika gempa bumi terjadi dan mampu meminimalisir korban jiwa,” kata Dadek.

Melihat kerentanan itu, BPBA Aceh mengeluarkan beberapa rekomendasi. Di antaranya, setiap pembangunan gedung, perumahan, dan jembatan harus mengikuti kaidah bangunan tahan gempa. Merujuk ke SNI 1726-2012. Kemudian harus dilakukan studi terkait kondisi tanah sebelum dijadikan kawasan pembangunan.

Gempa, katanya, sering memicu bencana susulan seperti di Palu. Hasil survei bathimetri laut di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar harus dilakukan untuk melihat ada atau tidak potensi longsor yang bisa memicu tsunami akibat longsoran bawah laut.

Selanjutnya Pendidikan kebencanaan harus terus digalakkan untuk murid sekolah guna memberikan pengetahuan kebencanaan sejak dini. Dan untuk selalu meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

SUMBER: Viva.co.id

BERBAGI