Beranda Ekonomi Hasil Panen Petani Dijual ke Luar, Ketua DPRA: Aceh Punya Beras, Medan...

Hasil Panen Petani Dijual ke Luar, Ketua DPRA: Aceh Punya Beras, Medan Punya Nama

BERBAGI
Ketua DPRA Tgk. Muharuddin. [Foto: AcehOnline/Reza Gunawan]

BIREUEN – Ketua DPRA Tgk. Muharuddin mengatakan dirinya sangat menyayangkan produksi padi atau beras dari petani Aceh belum berdampak kepada perekonomian Aceh dan para petani di Aceh. Hal itu menurutnya karena produksi beras Aceh yang memakai brand lokal Aceh belum signifikan, di mana padi hasil panen petani Aceh dikirim ke luar dan diproduksi menjadi beras yang memakai merek dagang luar.

“Yang sangat ironis kita lihat saat ini, padi atau beras Aceh dikirim (dijual) ke luar, lalu diproduksi menjadi beras luar, yang akhirnya dikirim ke Aceh lagi. Yang akhirnya, Aceh punya beras, Medan punya nama,” kata Tgk. Muharuddin usai menghadiri acara Khauri Blang masyarakat Kecamatan Jeumpa, yang digelar di Makam Raja Jeumpa, Bireuen, Senin (15/10/2018).

Produksi beras Aceh, Tgk. Muhar menjelaskan, dalam setahun berjumlah dua juta ton. Namun menurutnya, masyarakat Aceh hanya mengkonsumsi tidak sampai satu juta ton.

“Produksi beras kita lebih, tapi fakta hari ini sebagian masyarakat Aceh masih mengkonsumsi beras impor atau beras dari luar Aceh, yang bukan produk lokal,” jelasnya.

Ketua DPRA Tgk. Muharuddin saat menghadiri Khauri Blang masyarakat Jeumpa, Bireuen. [Foto: Istimewa]
Terkait persoalan itu, Tgk. Muharuddin mendesak Pemerintah Aceh untuk dapat berperan maksimal agar hasil padi dari petani di Aceh tidak dimanfaatkan para tengkulak-tengkulak, yang akhirnya merugikan para petani Aceh.

“Jangan sampai para tengkulak memanfaatkan moment saat petani Aceh turun ke sawah dengan memberikan bibit dan pupuk atau bantuan lainnya, sehingga saat panen para tengkulak yang menguasai hasil panen masyarakat. Di sinilah tidak hadirnya pemerintah, untuk itu ke depan kita harapkan peran dari pemerintah untuk dapat mengawal dan menjaga hasil panen para petani Aceh,” ungkap politisi Partai Aceh ini.

Selain itu, Tgk. Muharuddin juga berharap Pemerintah Aceh melalui dinas terkait dapat membuat grand design agar hasil panen padi atau beras para petani Aceh tidak lagi dijual ke luar, di mana dapat diproduksi menjadi beras lokal Aceh dengan memakai brand atau merek dagang Aceh.

“Di Bireuen ada sekitar 42 ribu hektare lebih sawah masyarakat, belum lagi puluhan ribu hektare di Aceh Utara dan daerah-daerah lainnya di Aceh. Maka, industri-industri besar (pabrik) untuk memproduksi beras lokal Aceh sudah layak diupayakan Pemerintah Aceh. Jika peran pemerintah dimaksimalkan, maka Aceh akan mandiri secara pangan dan dapat menjadi lumbung pangan nasional, serta ke depan masyarakat Aceh tidak lagi mengkonsumsi beras-beras impor,” harapnya.

Persoalan tersebut, Tgk. Muhar menambahkan, juga akan dibicarakan lebih lanjut nantinya bersama dengan Plt Gubernur Aceh atau dinas terkait, agar produksi padi para petani Aceh dapat terjaga dan mensejahterakan para petani, serta berdampak kepada perekonomian Aceh. [Reza Gunawan]

BERBAGI

2 KOMENTAR

  1. Kiban cara meningkat perekonomian masyarakat sedangkan harga pade bacut saho gen harga lho’k 4700-3500/kg

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here