Beranda Nanggroe Enam Tahun Aceh Online, Ide ‘Gila’ Itu Masih Bertahan

Enam Tahun Aceh Online, Ide ‘Gila’ Itu Masih Bertahan

BERBAGI
Milad Aceh Online ke 6. [Grafik: Decky Rissakotta].

Enam tahun silam kami mencoba untuk membentuk sebuah portal berita online Aceh. Ide untuk mendirikan media online ini karena saat itu media cetak (koran) harian lokal tempat kami bekerja gulung tikar. Saya (Reza Gunawan) bersama Muhammad Haris, serta beberapa mantan wartawan mencoba untuk mencari nama untuk media online ini. Belum sempat berdiri, beberapa rekan-rekan mundur, karena mereka menilai hal itu merupakan itu ide ‘gila’ dan ‘bunuh diri’, karena membangun media tanpa modal dan donatur.

“Mau sampai kapan? Gila aja buat media nggak ada modal. Mustahil itu,” cetus Fauji Yudha, salah seorang redaktur senior media harian lokal di Aceh.

Meski bernada negatif, pernyataan rekan wartawan senior itu menjadi motivasi dan menambah semangat kami, serta tertantang untuk tetap ngotot mendirikan media online. Hal itu karena kami seakan lelah menjadi ‘budak’ bagi para pemilik media di Aceh.

Kami pun mengawalinya dengan mencari nama yang cocok sebagai media online baru itu. Setelah terdapat beberapa nama, seorang rekan wartawan memberi ide memakai nama ‘Media Aceh Online’. Namun, setelah memberikan saran nama, sahabat kami itu memilih bergabung dengan media lain. Dia beralasan tidak mungkin ‘bergotong-royong’ di media karena sudah berkeluarga. Berbeda dengan saya yang saat itu masih berstatus lajang dan Haris yang memiliki pekerjaan pokok sebagai kontributor media online plat merah di Aceh.

Media online yang akan kami dirikan belum terbentuk, namun beberapa rekan yang semula sepakat membentuk media sendiri mundur, karena tidak ada modal dan donatur untuk biaya mendirikan media. Haris mulai pesimis, dia pun menawarkan saya untuk bekerja saja di media lain, agar tetap eksis sebawai wartawan dan tidak kehilangan ilmu dan pengalaman yang telah saya miliki. Namun saya tetap ngotot, saya mendesak Haris yang memiliki kemampuan untuk membuat website, untuk tetap mewujudkan niat mendirikan media online sendiri walaupun tanpa modal dan donatur.

Haris pun akhirnya menyutujui, dengan syarat dirinya hanya sebagai pimpinan redaksi yang bertugas memantau berita dan mengelola website, Sementara untuk pengelola konten menjadi tanggungjawab saya. Haris pun akhirnya meminta saya mencari dana membeli domain dan hosting untuk Aceh Online. Untuk template website, saat itu kami memakai website bekas milik media lokal yang telah gulung tikar.

Saat itu saya menemui seorang politisi, dengan menawarkan dirinya untuk mendirikan media. Tawaran itu pun ditolak, karena dia tidak memiliki modal besar untuk mendirikan media. Saat itu, dia hanya menyumbang Rp 300 ribu untuk tambahan membeli domain dan hosting Aceh Online. Setelah mendapat sumbangan itu, saya langsung menemui Haris. Namun uang itu hanya cukup untuk domain, sedangkan untuk hosting agar website itu ‘hidup’ tidak cukup. Haris lalu menelpon temannya untuk ‘berutang’ hosting sementara, hingga Aceh Online memiliki pemasukan dan membayarnya kemudian.

Akhirnya, perjuangan pahit itu membuahkan hasil. Hari ini enam tahun yang lalu, tepatnya 10 Oktober 2012, Aceh Online mengudara dan mulai memposting berita. Meski saat itu kami menumpang di Kantor Event Organizer Delta Intermedia, namun kami lebih memilih untuk ‘bekerja’ di warung kopi. Aceh Online pun berjalan seadanya, dengan dibantu beberapa rekan wartawan media lokal dan nasional, tanpa meminta bayaran dari berita yang mereka kirim, dengan tujuan ada media online lokal yang dapat menjadi penyeimbang informasi bagi masyarakat Aceh.

Selang setahun, Aceh Online mulai sedikit berubah. Satu pengusaha dan satu politisi partai lokal di Aceh yaitu A. Hakim T. Ibrahim dan (Alm) Atqia Abubakar yang bergabung menjadi komisaris di Aceh Online. Namun, mereka tidak memberikan dukungan ‘dana segar’ untuk Aceh Online, hanya memberikan satu bangunan sebesar 4 x 6 meter di kawasan Beurawe, Banda Aceh. Meski sedikit kecil, namun tumpangan untuk kantor itu sangat memberikan semangat untuk kami untuk berkarya dan membesarkan Aceh Online.

Meski tak ada bantuan dana, kami bersedia dua komisaris ini bergabung, dengan perjanjian membantu relasi agar Aceh Online dapat bekerjasama dengan pihak lain dan mendapatkan pemasukan. Hal itu karena rekan-rekan yang bergabung di Aceh Online seluruhnya berlatar belakang sebagai jurnalis, yang hanya memiliki kemampuan menulis berita dan tidak mengerti bagaimana melobi untuk kerjasama di media.

Setelah itu, Aceh Online mulai merekrut wartawan-wartawan baru. Beberapa wartawan muda, redaktur, bahkah rekan-rekan seperjuangan di berbagai media di Aceh ikut membantu membesarkan Aceh Online. Hal itu karena mereka sedikit yakin Aceh Online akan maju karena telah memiliki kantor dan jaringan untuk kerjasama dalam membesarkan media.

Menjelang pemilu 2014, Aceh Online mulai bangkit. Sejumlah partai politik dan instansi pemeritahan mulai melakukan kerjasama dan memasang iklan. Dengan berbagai pemasukan, kami mampu ‘melahirkan’ sebuah media cetak mingguan yang kami beri nama ‘ACEH MEDIA’. Media cetak kami terbitkan, karena banyak konsumen yang tidak ingin memasang iklan dengan harga tinggi di media online yang saat itu masih terkesan seperti blog. Sedangkan di media cetak, orang berani membayar dengan harga tinggi.

Ternyata, upaya untuk mendapatkan pemasukan besar itu tidak seperti yang diharapkan. Hanya lima kali terbit, ACEH MEDIA tidak lagi memiliki biaya untuk cetak, keuangan yang kami kumpulkan dari pemasukan Aceh Online pun kandas. Hal itu karena banyak pihak yang memohon bantuan kerjasama publikasi dan pemasangan iklan tidak membayarnya, baik di Media Aceh Online maupun ACEH MEDIA. Akhirnya kami memilih menutup ACEH MEDIA karena jerih payah rekan-rekan redaktur dan wartawan khususnya tidak terbayar, meski sebelumnya kami sepakat untuk sama-sama ‘ikat perut’.

Akhirnya, kami kembali fokus di Aceh Online. Karena pendapatan minim, kami harus ‘nyambi’ dengan membuat tabloid dan media internal partai lokal dan beberapa instansi pemerintah di Aceh. Namun di tahun 2016, salah seorang komisaris Aceh Online yakni Atqia Abubakar dipanggil sang khalik. Karena tak ada lagi Pak Atqia –panggilan tim redaksi Aceh Online untuk Atqia Abubakar, Pak Hakim pun mengundurkan diri dan tidak lagi memberikan ‘tumpangan’ di bangunan kecil miliknya.

Setelah itu, hingga hari ini kami kembali bekerja di warung kopi yang menjadi ‘kantor’ Aceh Online. Rumah pimpinan redaksi Aceh Online pun kami jadikan alamat kantor, agar memudahkan para pihak yang ingin melayangkan surat. Meski ‘tertatih’tatih’ karena tidak memiliki lagi ‘orang tua’ dan hanya tinggal beberapa orang wartawan, kami tetap bertahan dan mencoba untuk menjadi penyeimbang informasi di Aceh.

Aceh Online memang hanya ‘media kecil’ dan tidak memiliki kantor layaknya media lain di Aceh. Namun saat ini masih banyak yang ‘meminta pertolongan’ publikasi di Aceh Online tanpa bayaran ataupun kerjasama, sebagai pemasukan kami membesarkan media online lokal ini. Kami tetap akan membantu dan memberikan pertolongan, khususnya bagi kalangan masyarakat miskin, mahasiswa, dan pegiat sosial yang membutuhkan bantuan publikasi.

Semoga, ini bukan menjadi tahun terakhir bagi Aceh Online dan kami tetap dapat terus bertahan dalam menyajikan informasi bagi masyarakat Aceh. Dengan harapan, motto kami ‘Dari Aceh untuk Dunia’ dapat terwujud suatu saat nanti dan kami dapat menjadi media yang profesional layaknya media-media ‘besar’ lainnya di Aceh.

Terima kasih yang tak terhingga kepada rekan-rekan yang masih setia berdikari untuk Media Aceh Online dan salam hangat untuk yang pernah membantu membesarkan Aceh Online. Terima kasih juga kami hanturkan kepada semua pihak yang telah membantu dan setia menjadi pembaca Media Aceh Online. Tanpa kalian semua, Aceh Online tidak mungkin bertahan hingga saat ini. []

Reza Gunawan, Pendiri Media Aceh Online

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here