Beranda Nanggroe Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, Selamat Jalan Amira

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, Selamat Jalan Amira

BERBAGI
Amira Salsabila, bayi penderita bocor jantung saat dirawat di RSUZA. [Foto: Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Amira Salsabila, 4.9 tahun, bayi malang penderita bocor jantung yang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa, 1 Mei 2018, Pukul 05.30 WIB pagi tadi.

Sebelumnya, Amira yang  telah dirawat di RSUZA selama 20 hari itu, akan dirujuk ke Jakarta pada Rabu, 2 Mei 2018, Pukul 11.15 WIB. Sejumlah pihak telah berupaya membantu proses rujukan Amira ke Jakarta, seperti membantu sumbangan dana, persiapan rumah singgah selama di Jakarta, serta proses kepengurusan keberangkatan Amira.

Pengurus Yayasan Singgah Jantung Aceh, Dahliana, kemarin telah berupaya melobi Lion Air, yang akhirnya meringankan biaya sewa tabung oksigen menjadi Rp 2.924.000 ditambah biaya deposi Rp 10 juta yang akan dikembalikan ketika pasien sampai di Jakarta. Anggota DPD-RI Haji Uma juga telah menyewa rumah di Jakarta untuk ditempatkan keluarga Amira selama di Jakarta.

Awalnya kemarin, proses rujukan Amira ke Jakarta sempat terkendala karena tidak adanya biaya tambahan yang tidak ditanggung layanan kesehatan (JKA) yang harus dibayar keluarga Amira, seperti tabung oksigen di pesawat dan biaya kursi tambahan karena Amira harus dibaringkan.

Namun, meski segala persiapan rujukan ke Jakarta  telah dilakukan, Allah SWT lebih dahulu memanggil pulang Amira. Thaisir, ayah Amira mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama Amira dirawat di RSUZA.

“Amira akan dipulangkan hari ini juga ke Aceh Selatan untuk dikebumikan di sana,” ungkap Thaisir.

Anggota DPD-RI asal Aceh, Sudirman yang akrab disapa Haji Uma kepada acehonline.info, Selasa, mengatakan mengaku tersentak menerima informasi meninggalnya Amira. Menurutnya, kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat dan Pemerintah Aceh ke depan, dengan melakukan upaya penanganan yang lebih serius bagi pasien JKA.

“Jangan terpaku oleh aturan-aturan, sehingga terjadi pengabaian yang prefentif dalam hal-hal mendesak (darurat) yang menyangkut nyawa pasien. Pemerintah Aceh harus mencari format lain dalam JKA dan kerjasama dengan BPJS yang belum terkaver,” ujarnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here