Beranda Nanggroe Dibantu Haji Uma, Warga Aceh yang Ditangkap di Malaysia Kembali ke Kampung...

Dibantu Haji Uma, Warga Aceh yang Ditangkap di Malaysia Kembali ke Kampung Halaman

BERBAGI
M Afzal, warga Aceh yang ditangkap di Malaysia kembali ke kampung halamannya setelah dibantu Haji Uma. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Muhammad Afzal (18 tahun), warga Aceh asal Peusangan Kabupaten Bireuen sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa perantauannya di negeri jiran Malaysia harus berakhir miris. Pada tanggal 21 September 2017, M. Afzal yang bekerja sebagai mekanik di Teluk Panglima, ditangkap dalam sebuah operasi keimigrasian di daerah Rawang Sungai Buloh Selangor.

Paska penangkapan, M. Afzal selanjutnya harus mendekam di penjara imigrasi dan sejak 4 November 2017 dipindahkan ke Penjara Kajang, Malaysia. Berita tentang penangkapan M. Afzal dan warga Aceh lainnya kala itu diperoleh dari anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma. Pihak keluarga meminta agar dibantu proses komunikasi dan koordinasi terkait nasib dan kondisi M. Afzal paska penangkapan.

Haji Uma yang dikenal kerab membantu warga Aceh di Malaysia kemudian menindaklanjutinya dengan membangun komunikasi dengan Abu Saba dari KANA Group untuk menelusuri posisi keberadaan M. Afzal dan membantu pengurusan untuk pemulangan ke Aceh sebagaimana yang diharapkan keluarganya di Aceh.

Setelah melalui proses panjang dan berliku, akhirnya M. Afzal dapat kembali dan tiba di kediaman keluarganya di Peusangan, Bireuen pada Kamis malam, 26 April 2018. Kabar terkait kepulangan M. Afzal disampaikan Haji Uma, kepada acehonline.info, Jumat, 27 April 2018.

Haji Uma bersyukur proses kepulangan M. Afzal berjalan lancar dari Malaysia, setelah sebelumnya melalui proses yang panjang dan berliku.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberi perhatian dan membantu, khususnya Abu Saba dan KANA Group dan warga Aceh di Malaysia, BP3TKI dan juga pihak KJRI Malaysia,” kata Haji Uma.

“Alhamdulillah, saudara M. Afzal telah tiba di kediamannya dan berkumpul kembali bersama keluarga. Saya telah berkomunikasi dengan pihak keluarga dan M. Afzal sendiri terkait proses selama penahanannya di Malaysia”, tambah Haji Uma.

Selama proses pengurusan pemulangan, Haji Uma secara intensif berkoordinasi dengan Abu Saba dan BP3TKI. Menurut Haji Uma, hal ini juga dilakukan karena pihak keluarga kerap menghubungi dirinya guna menanyakan perkembangan proses kasus anaknya tersebut.

Sementara itu, M. Afzal kepada Haji Uma mengungkapkan bahwa dirinya memiliki paspor. Namun saat terjadi operasi imigrasi dirinya tidak membawa paspor dan beberapa warga Aceh yang memiliki paspor juga tetap ditangkap. Selama proses pemeriksaan, paspor miliknya sempat diantar oleh teman namun kasusnya tertahan di balai imigrasi, tidak pernah sampai ke mahkamah untuk proses lanjutan.

Menurut M. Afzal, selama menjalani penahanan, dirinya ditempatkan secara berpidah-pindah. Hal inilah yang menyebabkan dirinya sulit untuk ditemukan dan proses pengurusan pembebasan dirinya berjalan lama. Dirinya juga menuturkan bahwa apa yang dialami dirinya adalah sebuah pengalaman hidup yang dibaliknya terdapat hikmah pembelajaran. []

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here