Beranda Infotaiment Seni Budaya Aceh Di Ambang Kepunahan

Seni Budaya Aceh Di Ambang Kepunahan

234
0
BERBAGI
Ilustrasi tarian tradisional Aceh

Seni Budaya Aceh, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun kemegahan dan kehebatan seni budaya Aceh saat ini, bukanlah menjadi kebanggaan masyarakat Aceh itu sendiri, melainkan dunia luar.

Di Jakarta, seni tari tradisional Aceh dijadikan salah satu pelajaran ekstrakulikuler, yang diterapkan sejumlah sekolah menengah dan lanjutan. Sedangkan di berbagai mancanegara, orang sangat mengangumi tari seribu tangan (Saman) yang dimiliki Aceh, dikarenakan heroiknya dan kecepatan tangan yang dimainkan dalam tarian tersebut.

Sedangkan di Aceh sendiri, hanya segelintir para pemuda Aceh, yang mau mempejajari keseniannya. Para pelajar-pelajar Aceh lebih menyukai seni-seni modern, dibandingkan seni daerahnya sendiri.

“Kalau ini terjadi terus-menerus, bisa-bisa beberapa tahun kedepan. Para pemuda Aceh akan ke Jakarta, untuk mempelajari kesenian yang berasal dari daerahnya sendiri,” kata Imam Juani, salah satu penggiat seni yang berkecimpung di Sanggar Seni Seulaweut (S3) IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Akibatnya, kata Imam, banyak seni-seni tari di Aceh, yang tidak diketahui para generasi muda Aceh. “Para pemuda di Aceh hanya mengetahui saman. Padahal untuk saman itu sendiri, ada beberapa jenis. Saman Gayo itu tari saman Aceh untuk wilayah dataran tinggi Aceh, sedangkan daerah pesisir dan kepulauan Aceh memiliki samannya sendiri,” ujarnya.

Imam juga menjelaskan saat ini banyak tari-tari Aceh yang sudah tidak diketahui keberadaanya. Padahal, tari-tari tersebut dahulunya pernah ada di Aceh. Namun karena kurangnya pelestarian, maka banyak jenis-jenis tari Aceh yang telah hilang.

“Dari data yang saya dapatkan, ada 1200 jenis tari di Aceh. Namun, yang ada saat ini tidak sampai 20 tari. Ada beberapa tari yang hanya tinggal nama, namun tidak diketahui bagaimana gerak-gerak tari itu sendiri,” kata Imam.

Salah satu penyebab kepunahan tari Aceh, kata Iman, dikarenakan konflik yang melanda Aceh hingga 30 tahun lebih. Saat konflik, banyak seniman dan musisi Aceh yang tidak bisa leluasa melakoni dunia seni. “Selain itu, banyak juga seniman dan musisi Aceh yang kembali ke pangkuan Illahi akibat musibah Tsunami yang melanda Aceh,” ujarnya.

Namun yang sangat disyangkan, kata Imam, pemerintah tidak ada upaya untuk mencoba meneliti kembali, jenis-jenis tari yang telah hilang tersebut. “Jangankan untuk meneliti yang sudah hilang, untuk pelestarian yang sudah ada saja terkesan setengah hati,” kata pendiri grup musik religi Aceh ‘Saleum Group’ ini.

Guna melesatikan seni dan budaya Aceh, Imam mengaku hanya bisa melakukan sebatas kemampuan yang dimiliki, seperti melatih generasi muda untuk dapat mengenal tari dan musick tradisional Aceh, di Sanggar Seni Seulaweut IAIN Ar-Raniry. Serta membentuk grup music etnik religi Aceh ‘Saleum Group’, untuk memotivasi generasi Muda Aceh.

“Karya-karya seni di Aceh saat ini juga sudah jauh melenceng dari khazanah budaya Aceh. Di mana banyak lagu-lagu Indonesia dan india yang diubah kedalam bahasan Aceh. Untuk itulah kami membenttuk ‘Saleum Group’ untuk memotivasi generasi muda Aceh agar betul-betul berkarya sesuai dengan seni dan budayanya sendiri,” ujarnya.

Saat ini, Iman menambahkan, banyak seniman-seniman di Aceh yang “banting stir” untuk mencari pekerjaan lain, karena mereka kesulitan untuk menutupi kebutuhan hidupnya. di Aceh, para seniman tidak bisa hanya mengandalkan kemampuannya di bidang seni, dalam mencari nafkah.

“Padahal terkadang ada seniman yang sudah berkarya puluhan tahun, tetapi akhirnya tidak meneruskan lagi kiprahnya di dunia seni. Selain itu banyak para orang-orang tua, yang melarang anaknya untuk berkesenian,” imbuhnya.

Untuk itu, Imam berharap kepada Pemerintah Aceh, untuk dapat betul-betul memperhatikan Seni Budaya Aceh, yang kini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. “Kepada para pamuda Aceh, saya juga berharap agar dapat mencintai seni dan budayanya sendiri. Kalau ada seni atau budaya ktia sendiri, untuk apa mengikuti budaya lain,” kata Seniman Aceh ini.

Hal senada juga dikatakan Joel Pasee yang merupakan vokalis Cupa Band. Ia sangat menyayangkan para generasi muda saat ini yang lupa akan besar dan megahnya seni budaya Aceh, di mana dunia luar sangat suka dan mencintainya.

“Generasi muda Aceh lebih suka memainkan seni-seni modern. Malah mereka merasa malu memainkan seni budaya Aceh, karena takut dibilang kampungan. Padahan tidak semua yang kampung itu kampungan, dan tidak semua yang murah itu murahan,” kata kata salah satu vokalis ternama Aceh ini.

Untuk menyelamatkan seni Aceh dari kepunahan, Joel mengaku mengabdi dirinya untuk Nanggroe Aceh, dengan melatih musik dan tari tradisonal Aceh di daerah-daerah pedalaman Aceh. Di antaranya, Joel melatih tari dan musik kepada para pelajar sekolah di SMA Negeri 2 Nisam kabupaten Aceh Utara.

Untuk melatih para remaja pedalaman Aceh Utara itu, Joel harus menempuh perjalanan setiap minggunya, sejauh 12 kilometer dari kediamannya, ditambah hambatan jalan yang bebatuan serta berdebu. Namun, perjalanan yang berat itu, tidak membuatnya mengurungkan niat untuk memberikan secuil ilmu yang dimilikinya.

Selain itu, Joel Pasee juga melahirkan sejumlah karya musik dan lagu-lagu etnik Aceh. “Saya cuma ingin berbuat sesuatu untuk Aceh. Gajah mati meninggalkan gading, jika kita mati maka tidak ada yang bisa kita tinggalkan kecuali jasa atau hasil karya yang berguna untuk generasi penerus,” ujar Joel Pasee.

Selain itu, tujuannya melahirkan karya-karya seni musik Aceh dan melatih para generasi muda aceh, yakni joel berharap para remaja dapat “terangsang” jiwanya untuk berpikir, menjelajahi, dan mempelajari seni budaya Aceh.

“Jika kontingen Aceh menampilkan karyanya di daerah luar, pasti selalu menjadi sorotan yang terbaik. Tapi sangat disayangkan ketika di Aceh itu sendiri, seni budaya Aceh dinilai kampungan,” ujar Joel Pasee dengan nada sedih.

Joel menambahkan, jika dua dan tiga tahun kedepan pelestarian seni budaya Aceh tidak dilestarikan dengan maksimal, maka anak cucu Aceh ke depannya tidak akan mengenal lagi betapa besar dan megahnya warisan dari nenek moyang mereka.

Selain itu yang sangat disayangkan, kata Joel, saat ini salah satu tari tradisional Aceh yakni Tari Saman telah masuk dalam program pelajaran ekstrakulikuler di sekolah-sekolah di Jakarta dan Pulau Jawa.

“Bisa saja ke depannya jika seni budaya Aceh telah terlupakan oleh masyarakat Aceh itu sendiri, maka orang luar yang akan menampilka kesenian Aceh, di daerah kelahiran seni itu sendiri. Jika itu terjadi maka Aceh hanya bisa tercengang dan menyesal. Mandum atra ka leupah, adak teulah hana le guna (semua yang telah terjadi, tiada guna menyesal),” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here