Beranda Politik Akademisi: Radikalisme Belum Masuk Kampus di Aceh

Akademisi: Radikalisme Belum Masuk Kampus di Aceh

151
0
BERBAGI
Diskusi membahas Resolusi Deradikalisasi pada Kalangan Pemuda dan Mahasiswa yang dilaksanakan oleh Parameter Research Center di Banda Aceh, Kamis (25/1/2018).

BANDA ACEH – Akademisi dan Peneliti Unsyiah Effendi Hasan mengungkapkan hingga kini belum ada penelitian yang menyebutkan paham radikalisme sudah masuk ke kampus-kampus di Aceh. Namun kalau beberapa kampus di Indonesia hasil penelitian memang sudah masuk paham tersebut.

“Kalau di Aceh belum ada penelitian yang menyebutkan paham radikalisme sudah masuk,” kata Effendi Hasan dalam seminar pulik dengan tema resolusi deradikalisasi pada kalangan pemuda dan mahasiswa yang dilaksanakan oleh Parameter Research Center di Banda Aceh, Kamis (25/1/2018).

Ia menyebutkan kelompok radikalisme sengaja memasukkan paham tersebut ke kampus-kampus. Karena mahasiswa merupakan agen perubahan atau agent of change. Apalagi mahasiswa memiliki banyak ide yang bisa mempengaruhi orang banyak.

“Kelompok ini memang sengaja masuk di kampus dulu agar mudah menyebarkan paham radikalisme itu,” ujarnya.

Menurutnya yang harus dilakukannya oleh kampus untuk menghindari masuknya paham tersebut adalah dengan melakukan penekanan nilai-nilai agama kepada mahasiswa. Apalagi Islam sangat menentang paham radikalisme.

“Harus memberikan pemahaman dan pemantapan nilai-nilai agama Islam kepada mahasiswa. Khususnya untuk mahasiswa baru. Makanya kami dulu selalu membuat kegiatan ospek ketika masuk ajaran baru,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Effendi adalah dengan menerapkan mata kuliah tentang radikalisme, sehingga mahasiswa tahu masalah radikalisme.

“Gerakan-gerakan radikalisme itu terus muncul dan mengganggu, makanya kampus juga harus kuat melawan paham itu. Kemudian pemahaman nilai-nilai Pancasila dan UU 1945,” katanya.

Dulu, kata Effendi, ada mata pelajar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau yang disingkat P4. Namun mata pelajar tersebut dihapus. Padahal mata pelajarna tersebut sangat bermanfaat untuk melawan paham-paham radikalisme.

“Misalnya pelajar P4 ini baik, kenapa bisa hilang sekarang, apakah ini orde baru kemudian dilenyapkan,” jelasnya.

Effendi mengatakan negara harus bertanggung jawab untuk melawan paham radikalisme itu. Negara juga harus mengambil kebijakan kembali. Paham radikalisme bisa dihindari ketika negara sudah mampu menyejahterakan rakyat.

“Negara harus tegas, dan bertanggung jawab. Jadi dalam hal ini bagaimana negara harus menyejahterakan rakyat agar rakyat tidak terpengaruh dengan hal-hal radikalisme,” katanya. [Rizki Aulia]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here