Beranda Hukum Bea Cukai Musnahkan Barang Illegal Hasil Sitaan Senilai 2 Milliar

Bea Cukai Musnahkan Barang Illegal Hasil Sitaan Senilai 2 Milliar

535
BERBAGI
Ist

BANDA ACEH – Kanwil Bea Cukai Aceh dan Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara serta Kejaksaan Negeri Tanjung Balai Asahan musnahkan barang milik negara, barang rampasan negara, dan barang bukti hasil penindakan kepabeanan dan cukai. Pemusnahan tesebut dilaksanakan di Dermaga Kanwil Bea Cukai Sumater Utara pada Kamis, (21/12/2017).

Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh, Agus Yulianto menyebutkan pemusnahan ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemusnahan dari KPKNL, penetapan pemusnahan dari pengadilan negeri yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Agus juga menyebutkan barang yang dimusnahkan berupa 3.497 bale Pakaian Bekas, 8.250 pcs Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), 214 pasang Alas Kaki, 278.324 Batang Rokok, 310 botol Minuman Mengandung Ethyl Alkohol (MMEA), 300 karton Kosmetik, 99 Karton Pakan Ternak, dan 4.637 pcs Barang Campuran di antaranya Ban Bekas, Obat-Obatan, Makanan, Mainan, Sparepart dan Cairan Kimia.

“Dengan total perkiraan nilai barang sebesar Rp 2 milliar lebih, serta kerugian negara diperkirakan sebesar Rp 700 juta,” katanya.

Pemusnahan barang ini, kata Agus sebagai upaya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai pelindung masyarakat dari masuknya barang impor yang dapat membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan.

“Barang yang di musnahkan ini tergolong sebagai barang yang berbahaya untuk manusia maupun lingkungan jika sampai dikonsumsi serta dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan negara,” sebut Agus.

Pakaian bekas jika dipakai oleh masyarakat dapat menularkan penyakit serta merugikan sektor industri garmen, kosmetik dan obat obatan illegal juga dapat merusak kesehatan pemakainya

Sementara pakan ternak ilegal dapat menggangu kesehatan hewan ternak yang akan berdampak terhadap stabilitas pangan, begitu juga dengan cairan kimia ilegal yang dapat merusak lingkungan maupun keamanan negara.

Sumatera Utara dan Aceh, kata Agus merupakan wilayah dengan resiko tinggi terjadinya praktek penyelundupan baik melalui jalur laut maupun jalur udara khususnya untuk barang-barang yang terkena larangan dan atau pembatasan importasinya di antaranya barang-barang yang dimusnahkan saat ini.

“Disamping itu juga menjadi pasar potensial untuk Barang Kena Cukai ilegal berupa Rokok dan MMEA,” jelasnya.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sangat mengapresiasi setinggi-tingginya atas sinergi bersama para aparat penegak hukum di wilayah provinsi Sumut maupun Provinsi Aceh baik dari TNI, Polri, Karantina, Imigrasi, Kejaksaan, Pengadilan, KPKNL, BPOM, dan aparat penegak hukum lainnya.

“Tidak luput juga atas peran dan dukungan masyarakat serta media massa untuk mengkampanyekan kepada masyarakat terkait bahaya penyelundupkan,” katanya.

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here