Tiga Orang Meninggal Dunia Akibat Gempa Tasikmalaya

    491
    BERBAGI

    JAKARTA – Gempa berkekuatan 6,9 Skala Richter yang mengguncang wilayah selatan Tasikmalaya telah menelan tiga korban meninggal dunia dan merusak bangunan serta rumah warga. Dua korban diketahui meninggal dunia akibat tertimpa tembok bangunan. Sementara satu orang lainnya terjatuh karena panik.

    Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban meninggal dunia antara lain Aminah berusia 80 tahun asal Pekalongan, Hj. Dede Lutfi berusia 62 tahun asal Ciamis dan Fatimah berusia 34 tahun warga Bantul.

    “Dua korban meninggal tertimpa tembok yakni Aminah di Pekalongan dan Hj. Dede Lutfi. Sementara korban ketiga pada saat gempa panik dan terjatuh, lalu meninggal di rumah sakit,” kata Sutopo di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu, 16 Desember 2017.

    Selain itu, gempa tersebut juga menyebabkan kerusakan bangunan cukup parah di antaranya 228 rusak berat, 152 rusak sedang, 97 rusak ringan dan 743 rumah rusak yang belum diklasifikasikan.

    “Bangunan rusak tersebut termasuk rumah warga, sekolah, tempat ibadah dan rumah sakit. Kami masih terus mendata dan mencari tahu kerusakan akibat gempa lebih lanjut,” ujar Sutopo.

    Hingga kini, BNPB dan pihak-pihak terkait masih terus mengerahkan upaya untuk mencari kemungkinan masih adanya korban.

    Selain itu, BNPB juga mendata lebih lanjut kerusakan akibat gempa dan memenuhi kebutuhan pengungsi korban gempa tadi malam. Meski peringatan tsunami telah dicabut, pihak BNPB meminta warga di lokasi sekitar gempa untuk tetap waspada.

    Penyebab Gempa

    BMKG menjelaskan gempa tadi malam diakibatkan tumbukan lempeng Indo-Australia.

    “Berdasarkan posisi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi ini disebabkan aktivitas zona subduksi yang terbentuk akibat tumbukan atau penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia di daerah selatan Jawa,” ujar Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Mochammad Riyadi, Sabtu (16/12/2017).

    Dia juga menjelaskan, setelah gempa terjadi, tidak ada pergerakan kenaikan air laut. Hal itu didasari hasil monitoring BMKG.

    “Dari rekaman stasiun-stasiun tide gauge yang dekat dengan pusat gempa, tidak terekam adanya kenaikan air laut,” ucapnya.

    Karena itu, setelah sekitar 2 jam, BMKG mencabut status peringatan tsunami di seluruh wilayah terdampak gempa.

    “Pengakhiran peringatan dini tsunami telah disampaikan pada pukul 02.26 WIB,” ujar Riyadi.

    Gempa tersebut terjadi pada Jumat (15/12) pukul 23.47 WIB. Gempa 6,9 SR itu berpusat di Tasikmalaya dengan kedalaman 107 km.[Viva.co.id/Detik.com]

    BERBAGI

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here