Kamis, 17-08-2017
Follow Us:
Waspada
Ekonomi | 13/08/2017
Aceh Media
BANDA ACEH - Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh, Hafas Furqaini, menilai perubahan sistem operasional Bank Aceh saat ini hanya sekedar simbol. Sebab dalam tataran praktek perbankan sama sekali tidak mengusung konsep baru. 

Hal ini disampaikannya, Jumat (11/8/2017), menanggapi setahun operasionalisasi sistem syariah Bank Aceh dari konvensional. 

Sebagaimana diketahui, Bank Aceh pada Minggu (6/8/2017), memperingati 44 tahun berdirinya bank tersebut. Dan selama kurun waktu itu, perbankan itu menjalankan sistem operasionalnya secara konvensional, dan sejak Agustus 2016, bank tersebut secara sistem berubah menjadi syariah. 

Namun, menurut Hafas, pakar ekonomi syariah ini, perubahan sistem Bank Aceh dari konvensional ke syariah, tidak berbeda dengan bank nasional lainnya yang juga mengusung konsep syariah. 

Sebab itu, perubahan sistem syariah hanya pada aspek produk yang dijual, dan juga sistem akadnya saja, namun ketika mereka menjual kredit, skema pembayaran oleh nasabah sama sekali tidak berubah. 

"Cara perhitungan kredit tetap sama dengan konvensional, akadnya saja yang syariah," tuturnya. 

Jadi, sederhananya perubahan Bank Aceh dari konvensional ke syariah secara murni hanya operasionalnya saja. Namun outputnya masih tetap menganut sistem konvensional. 

"Yang berubah dari Bank Aceh hanya status hukumnya saja menjadi syariah," tukasnya. 

Seharusnya, sebagai bank daerah, Bank Aceh harus terdepan menjalankan konsep syariah, bank yang mayoritas sahamnya milik Pemerintah Aceh, dan rakyat Aceh yang mayoritas muslim, sudah sepatutnya perubahan bank ini harus diikuti dengan berubahnya nilai, budaya dan etika perbankan. 

Sebagai bank syariah, Bank Aceh belum menanamkan nilai nilai perbankan syariah. Sebab, lanjutnya, bank itu masih memosisikan masyarakat sebatas kreditur dan debitur saja. 

Semestinya, nilai syariah perbankan yang murni syariah, mengusung konsep kemitraan, nasabah adalah mitra, transaksi adalah bagi hasil, sama sama untung dan rugi. 

"Substansi syariah Bank Aceh itu ada pada semangat dan spirit, dan ini yang tidak tampak berubah," jelasnya. 

Implikasi konversi Bank Aceh ke sistem syariah, sambungannya, semestinya membawa perubahan nilai baru bank tersebut dalam posisinya bersama Pemerintah Aceh mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. 

Namun saat ini, lanjutnya, konversi masih hanya sebatas pada akad dan produk yang dijual saja. 

"Sama sekali tidak ada nilai nilai baru yang Islami dalam praktek bank Aceh yang sudah di konversi tersebut," paparnya. 

Sementara itu, Humas PT Bank Aceh, Amal Hasan, menerangkan, perubahan sistem bank Aceh dari konvensional ke syariah sudah berjalan 100 persen. Dan pihaknya terus mengoptimalkan proses dan implementasi syariah ke masyarakat luas. 

Sebab itu, kata Amal, pihaknya sangat mengharapkan dukungan pemangku kepentingan di Aceh, untuk berperan dalam penguatan praktek ekonomi syariah dalam kehidupan sosial masyarakat. 

"Masukan warga sangat penting bagi perluasan implementasi ekonomi syariah di Aceh," tukas dia. [Waspada]


Anda Pengunjung:
Alamat Redaksi: Jalan Sultan Iskandar Muda 3A Banda Aceh, Provinsi Aceh :: Email: redaksi@acehonline.info