Kamis, 17-08-2017
Follow Us:
Rizki Aulia
Nanggroe | 10/08/2017
Aceh Media
BANDA ACEH - PDIP menyoroti kelangkaan obat di Aceh yang diduga terjadi akibat oknum distributor mempermainkan peredaran obat kesehatan di provinsi itu.

"Kelangkaan obat kesehatan ini jangan sampai berlarut-larut dan harus segera diantisipasi," tegas Ketua DPD PDI Perjuangan Aceh H Karimun Usman kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu 9/8).

Akibat kelangkaan itu, program jaminan kesehatan Pemerintah Aceh yang dipimpin Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah bakal terkendala bila tidak ada jaminan ketersediaan  obat dalam jumlah memadai. 

Apalagi belakangan ini di sejumlah daerah kabupaten kota di Aceh terjadi kelangkaan obat diduga  akibat oknum distributor yang mempermainkan peredaran obat  kesehatan di provinsi itu.

Ketua DPD PDI Perjuangan Aceh H Karimun Usman tampak berang dan menyoroti kelangkaan tersebut. Ia menegaskan dirinya langsung terjun ke lapangan mengumpulkan informasi dan mencari faktor penyebab kelangkaan obat.

Selain itu juga mencari solusi penyelesaian masalah, sehingga kelangkaan obat tidak mengganggu program kesehatan Irwandi Nova maupun program Nawacita Presiden Jokowi bidang kesehatan.

"Kami juga telah  memanggil pihak Kimia Farma, sebagai BUMN farmasi terbesar di Indonesia dalam penyediaan obat-obatan bagi masyarakat khususnya untuk wilayah Aceh," ujar Karimun Usman.

PDI Perjuangan, menurut Karimun, sebagai partai penguasa, kasus kelangkaan obat ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Terlebih lagi di Aceh, jangan sampai kelangkaan obat ini mempengaruhi program Pemerintah Aceh tentang pengobatan gratis melalui Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).

Sebagai BUMN, lanjut Karimun, Kimia Farma memiliki tanggung jawab besar terhadap penderitaan dan kesejahteraan rakyat. Dan persoalan ini  disampaikan ke pemerintah pusat serta menteri terkait, seperti Menteri BUMN dan Menteri Kesehatan, agar masalah kelangkaan obat di Aceh bisa segera diatasi.

Sementara itu, Bisnis Manager PT Kimia Farma Aceh Cahyo Dwi Agung mengakui bahwa kelangkaan obat-obatan sudah terjadi sejak pertengahan tahun lalu. Di pihak lain, Kimia Farma tidak bisa leluasa menyebarkan obat-obatan karena cakupannya terbatas.

Untuk Aceh, kata Agung, baru sedikit kabupaten/kota yang tertangani atau telah berdiri Apotek Kimia Farma. Seperti di Langsa ada  dua, Lhokseumawe tiga.

Kemudian, di Sigli satu apotek, Bireuen satu, dan Meulaboh juga satu. Sedangkan Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi sudah ada 12 apotek Kimia Farma.

Di wilayah Barat dan Selatan Aceh, baru dibangun di Meulaboh, Aceh Barat. Sedang kabupaten/kota lain belum ada penambahan, kata dia.
 
Kimia Farma Aceh, kata Cahyo Dwi Agung, sangat berkeinginan melakukan ekspansi distribusi obat di setiap daerah di Aceh. 

Keinginan tersebut akan dilakukan dalam rangka meningkatkan pelayanan sekaligus memenangkan persaingan dalam merebut pasar farmasi seiring diberlakukannya JKA Plus oleh pemerintah Aceh melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada tahun mendatang.
 
Masalahnya, lanjut Agung, untuk melakukan ekspansi, tidak bisa dilakukan oleh Kimia Farma tanpa campur tangan pihak pemerintah. 

"Bisa kita tambah apotek, tetapi kami minta harus ada instruksi khusus dari Pemerintah Aceh agar lebih mudah dalam perizinan," ujar Agung.

Menurutnya saat ini Aceh sangat terbatas mengakses obat dan klinik obat-obatan. Aceh sangat terganggu jaringan layanan kesehatan. Namun ke depan dengan adanya izin dari pemerintah daerah terutama dari Gubernur Aceh, dipastikan Kimia Farma akan hadir di seluruh kabupaten. 
 
Layanan kesehatan yang menyeluruh bagaimana menyukseskan program nawacita Presiden Jokowi. Harus menyeluruh dan merata sampai ke pelosok agar selaras program pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat dapat terwujud.
 
Layanan kesehatan dan distribusi obat yang terkendali di seluruh Aceh, sebagai solusi mengantisipasi praktek para distributor "abal-abal" yang menurut Agung sebagai penyebab terjadinya kelangkaan obat-obat kesehatan di Aceh. [Rizki Aulia]


Anda Pengunjung:
Alamat Redaksi: Jalan Sultan Iskandar Muda 3A Banda Aceh, Provinsi Aceh :: Email: redaksi@acehonline.info