Beranda Nanggroe Tu Sop: Banyak Kelompok yang Ingin Merusak Pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah di...

Tu Sop: Banyak Kelompok yang Ingin Merusak Pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah di Aceh

BERBAGI

ACEH TIMUR – Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (Huda) Tgk. Muhammad Yusuf A. Wahab yang akrab disapa Tu Sop menyebutkan saat ini banyak kelompok-kelompok yang ingin mereduksi atau merusak pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah yang selama ini digunakan sebagai paham atau aliran agama Islam masyarakat Aceh.

Hal itu diungkapkan Tu Sop saat membedah buku karyanya berjudul “Dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah”, Selasa (19/2/2019), di Komplek Dayah Asasul Islamiyah, Leuge, Aceh Timur. Hadir dalam kesempatan itu, Alumni Dayah Darul Falah Jeunieb dan Misbahul Ulum Paloh, Tgk. Muharuddin bertindak sebagai moderator.

Kepada wartawan usai acara bedah buku itu, Tu Sop menjelaskan, kelompok-kelompok yang ingin merusak pemahaman Ahlusunnah Wal Jama’ah di Aceh itu berasal dari luar Aceh. Mereka menyasar kalangan pendakwah yang berasal dari dayah serta masyarakat yang memiliki pemahaman rendah terkait paham Ahlussunnah.

“Ini sedang berjalan. Mereka mengincar ‘ruang-ruang kosong’ di Ahlusunnah Wal Jama’ah yakni masyarakat atau pendakwah yang kurang atau tidak menguasai dengan benar pemahaman Ahlusunnah Wal Jama’ah. Semua pihak di Aceh, khususnya kalangan dayah harus mengantisipasi persoalan ini,” jelasnya.

Berangkat dari persoalan itu, Tu menulis dan akan menerbitkan buku “Dakwah Ahlusunnah Wal Jama’ah” sebagai bahan tambahan bagi para pendakwah dan kalangan dayah di Aceh dalam memahami Ahlusunnah Wal Jama’ah.

“Buku ini tidak untuk masyarakat umum, hanya untuk kalangan sendiri saja (dayah), karena ada kajian ilmiah yang agak sulit dipahami masyarakat umum. Sebagian isinya bisa dikonsumsi masyarakat umum, sedangkan sebagian lainnya harus yang memiliki latar belakang pendidikan dayah,” jelas Tu Sop.

Selain persoalan dakwah, Tu Sop menambahkan juga dibahas mengenai politik harus menjadi kekuatan Islam. Menurutnya, masyarakat tidak boleh memusuhi politik, melainkan menjadikan politik itu sebagai sarana untuk menguatkan Islam dan Ibadah.

Dia pun berharap kepada Tgk. Muharuddin yang merupakan alumni dayah dan kini mencalokan diri ke DPR-RI serta para wakil rakyat Aceh lainnya yang diberikan amanah dapat menjadi kekuatan Islam nantinya di parlemen Republik Indonesia dalam.

Tu Sop berharap, paham aliran agama Islam di Aceh dapat berjalan seusai apa yang diajarkan Rasulullah Muhamamd SAW.

“Sikap dan perilaku masyarakat Aceh harus seperti yang diperintahkan agama Islam, halal, serta sesuai dengan apa yang dilakukan dan diajarkan Rasulullah,” jelasnya.

Tu Sop dan Tgk Muharuddin saat menghadiri acara Tausiah dan Bedah Buku Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah di Komplek Dayah Asasul Islamiyah, Leuge, Aceh Timur. [Foto: AcehOnline/Reza Gunawan]
Sementara itu Tgk. Muharuddin usai menjadi moderator dalam bedah buku tersebut kepada wartawan mengatakan persoalan ini bukan hanya menjadi tantangan bagi masyarakat Aceh, melainkan para ulama dan teungku-teungku dayah untuk menjaga dan membentengi pemahaman Ahlusunnah Wal Jama’ah agar tidak dirusak pihak manapun.

“Metode dan pola dakwah Ahlusunnah Wal Jama’ah harus bisa disampaikan dan mudah dipahami semua kalangan, terutama kalangan milenial (generasi muda), yang sangat dangkal terhadap pemahaman akidah Islam,” ujarnya.

Persoalan fenomeda adanya pihak yang ingin mereduksi pemahaman Ahlusunnah, Tgk. Muhar menjelaskan tidak hanya terjadi di Aceh, melainkan di bebagai belahan dunia dan negara manapun.

“Banyak aliran yang tidak seusai dengan kaedah Ahlusunnah Wal Jamaa’ah, seperti ada aliran yang kemudian menyalahkan pendapat para sahabat, lalu membenarkan sahabat yang lain. Ini bedanya dengan Ahlusunnah ini menyatukan semua pendapat, baik pendapat Rasulullah maupun para sahabat,” jelasnya.

Tgh. Muhar menambahkan, hal terpenting dilakukan di Aceh bagaimana pondasi iman masyarakat Aceh dapat terus dikuatkan, melalui pendidikan agama Islam. Menurut Tgk Muhar, ada tiga ilmu yang menjadi fardu ‘ain yang wajib dituntut bagi semua mukallaf (muslim) yaitu ilmu tauhid, fiqih, dan tasawwuf.

“Ini ilmu yang harus didalami oleh masyarakat khususnya generasi muda Aceh. Tidak mungkin pondasi ini akan kuat dengan serta-merta, tanpa adanya kita menuntut ilmu agama. Kita tidak menafikan pentingnya ilmu akademik, namun Aceh yang merupakan daerah syariat Islam tidak bisa menafikan pentingnya juga menuntut ilmu agama,” ungkap politisi Partai Aceh ini.

“Dukungan dan dorongan para orang tua di Aceh juga sangat penting agar anak mereka menuntut ilmu agama. Jangan terkesan ilmu agama itu hanya untuk teungku dayah saja, tetapi juga sangat penting untuk masyarkat umum lainnya, dengan harapan dapat ‘membentengi’ Aceh dari pemahaman-pemahaman lainnya, khususnya aliran sesat,” tambahnya.

Mengenai harapan Tu Sop agar politik menjadi kekuatan Islam, Tgk Muhar mengatakan politik merupakan suatu instrument sebagai ajang silaturrahmi serta alat untuk menyampaikan aspirasi, bukan sebagai ajang percepahan atau ajang fitnah.

“Sejauh politik bisa dikemas dengan baik, maka justru akan menjadi ladang amal dan mendatangkan pahala. Politik itu, harus menjadi jalan bagi kita menuju Syurga. Jadi intinya, dalam berpolitik tidak meninggalkan agama sebagai pondasi dalam berpolitik,” kata Tgk. Muhar.

“Untuk itu, marilah kita sebagai masyarakat Aceh yang merupakan daerah syariat Islam untuk dapat berpolitik cerdas, mudah-mudahan partisipasi kita dalam berpolitik, dapat menjadi ibadah dalam melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki kapasitas di bidang akademik dan agama, baik itu untuk eksekutif maupun legislatif,” harapnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI