Beranda Ekonomi Menjelang Berakhirnya Otsus, Kebijakan Pemerintah Aceh Diminta Fokus ke Sektor Pertanian dan...

Menjelang Berakhirnya Otsus, Kebijakan Pemerintah Aceh Diminta Fokus ke Sektor Pertanian dan Perikanan

BERBAGI
Kepala Perwakilan BI Aceh Zainal Arifin Lubis (kanan) saat menjadi pemateri dalam acara talkshow yang diselenggarakan GeRAK Aceh. [Foto: AcehOnline/Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh Zainal Arifin Lubis mengatakan untuk mengatasi persoalan kemiskinan dan meningkatkan perekonomian di Aceh, dirinya berharap Pemerintah Aceh dapat melakukan langkah-langkah stategis dalam mengambil kebijakan dan dapat memfokuskannya ke sektor pertanian dan perikanan, serta pariwista.

Hal itu mengingat dana otonomi (otsus) Aceh yang diberikan pemerintah pusat akan berkurang menjadi 1 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBN dalam 5 tahun ke depan, dan akan berakhir pada 2028 mendatang.

“Ini momentum yang harus segera disikapi Pemerintah Aceh sebelum terlambat,” kata Zainal Arifin Lubis kepada wartawan usai acara talkshow bertema “Aceh Hebat, APBA 2019 Mau Dibawa ke Mana?” yang diselenggarakan GeRAK Aceh, di Hotel Kyriad Banda Aceh, Selasa (29/1/2019).

Pemerintah Aceh, Zainal menjelaskan, harus memberikan perhatian lebih kepada sektor pertanian yang didalamnya juga terdapat sektor peternakan, serta sektor perikanan.

Dua sektor ini, menurut Zainal, harus didukung dengan industri, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Industri yang dibangun di Aceh, kata dia, tidak berdiri sendiri tetapi mengikuti sektor pertanian dan perikanan.

“Selanjutnya menfokuskan kebijakan di sektor parisiwata. Ini yang harus berjalan sehingga memunculkan multiplayer ekonomi yang besar,” ungkapnya.

Zainal juga menjelaskan, pertanian dan perikanan harus menjadi perhatian khusus Pemerintah Aceh ke depan, karena dua sektor ini menurutnya memiliki keunggulan yang besar di Aceh.

“Untuk pertanian, Aceh memiliki berbagai komoditas seperti padi, kopi, nilam, pala dan sebagainya. Sedangkan di sektor perikanan, Aceh memiliki luas pantai kedua terluas di Sumatera. Potensi alamnya juga sangat bagus untuk kegiatan pariwisata,” jelasnya.

Sementara sektor yang paling cepat untuk menghidupkan perekonomian di Aceh, Zainal menambahkan, adalah sektor pariwisata.

“Sektor pariwisata sangat cepat dan mudah dilakukan (dikembangkan), tanpa harus membangun infrastruktur dibandingkan sektor lainnya, yang juga prosesnya yang panjang,” jelas Zainal.

Jika Pemerintah Aceh tidak segera mengambil kebijakan stategis untuk sektor-sektor tersebut, Zainai menilai setelah dana berakhirnya dana otsus, Pemerintah Aceh akan kesulitan untuk menjaga kesinambungan perekonomian Aceh ke depan.

“Untuk itu, Bank Indonesia sangat berharap Pemerintah Aceh melakukan langkah-langkah kognkrit untuk mengembangkan perekonomian Aceh di sektor pertanian dan perikanan yang didukung industri terkait,” harapnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI