Beranda Ekonomi Harga Sawit Murah di Aceh, Anggota DPRA: Ada Mafia yang Bermain

Harga Sawit Murah di Aceh, Anggota DPRA: Ada Mafia yang Bermain

BERBAGI
Ilustrasi buah sawit. [Foto: IStimewa]

BANDA ACEH – Anggota DPR Aceh Asrizal H. Asnawi menduga ada mafia yang bermain dan memainkan harga terkait murahnya harga buah sawit di tingkat petani. Terkait hal itu, dia meminta Pemerintah Aceh menurunkan tim ke lapangan meninjau persoalan harga buah sawit yang sangat merugikan petani.

“Pemerintah Aceh harus mengancam mencabut izin Pabrik Kelapa Sawit (PKS) jika harganya terlalu jauh antara petani dan di pabrik, karena izinnya kan dari provinsi,” kata Asrizal H. Asnawi, Kamis (31/1/2019).

Asrizal menjelaskan, persoalan di lapangan saat ini para petani tidak bisa langsung menjual buah sawit mereka langsung ke pabrik.

“Untuk menjual sawit ke pabrik, harus ada surat pengantar. Hanya pihak yang memiliki ikatan kontrak yang dapat menjual sawit ke pabrik. Dan, untuk menjual ke pabrik itu harus dengan skala besar, jadi pihak pabrik menggunakan pihak ketiga untuk suplai buah sawit ke pabrik,” jelasnya.

Hal ini, kata Azrizal, membuat para petani terpaksa harus menjual buah sawit mereka, meski dengan harga murah. Asrizal menduga selisih harga yang terlalu jauh antara petani dan prabrik disebabkan adanya permainan harga pihak tertentu.

“Ini seperti ada monopoli besar, yang akhirnya merugikan para petani sawit. Polda Aceh pun kami minta untuk turun dan memantau siapa mafia yang merugikan rakyat, serta untuk mengetahui siapa yang bermain dan mempermaikan harga sawit di tingkat petani,” ungkapnya.

Di Aceh Tamiang, Asrizal menjelaskan, harga buah sawit di tingkat petani yaitu Rp 900 per kilogram, sedangkan di pabrik harganya yaitu Rp 1.200.

“Memang selisihnya tidak terlalu jauh, tetapi terasa juga untuk para petani. Kalau Rp 200, bisa lah untuk ongkos angkut dan keuntungan pihak ketiga,” jelasnya.

Sementara itu di wilayah barat selatan Aceh dikabarkan harga buah sawit berkisar Rp500-700 per kilogram, sedangkan harga di pabrik yaitu Rp 1.000-1.030 per kilogram.

“Jauhnya pengangkutan buah sawit ke pabrik memang menjadi kendala, tetapi hal itu tidak membuat harganya terlalu jauh, paling selisih Rp 200/Kg. Kalau sampai setengah harga, itu sangat merugikan petani,” ungkap Asrizal. [Reza Gunawan]

BERBAGI