Beranda Tausiah Loyalitas Muslim pada Islam Perlu Pembuktian

Loyalitas Muslim pada Islam Perlu Pembuktian

BERBAGI
Ustaz H. Ahmad Rizal Lc MA, Imuem Chik Masjid Jami' Lueng Bata. [Foto: KWPSI]

Seorang muslim yang telah mengikrarkan Allah SWT sebagai Tuhannya, dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah harus membuktikan ucapannya itu dalam sikap dan perbuatan sehari-hari sebagai bentuk loyalitas kepada Islam, agama satu-satunya yang diridhai dan diterima di sisi Allah.

Bukti keislaman dan keimanan seseorang adalah adanya amal nyata dalam kehidupan, oleh karena sebagai muslim dan mukmin bukan sekedar pengakuan kosong dan “lip service” belaka, tanpa mampu memberikan pengaruh dalam kehidupan seorang muslim.

Selain merespon seluruh amal islami dan menyerapnya ke dalam ruang kehidupannya, Seorang muslim juga harus selalu loyal dan memberikan wala’-nya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia harus mencintai dan mengikuti apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi seluruh perbuatan yang dilarang.

Demikian antara lain disampaikan Ustaz H. Ahmad Rizal Lc MA, Imuem Chik Masjid Jami’ Lueng Bata, Banda Aceh saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (24/10/2018) malam. Pengajian dipandu moderator Badaruddin, Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Dayah Aceh.

“Pengakuan dan loyalitas seorang muslim pada agamanya itu harus ada pembuktikan. Yaitu kepedulian atau kecintaan pada apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul- nya dan kebencian atau menolak apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-nya. Bukan justru sebaliknya yaitu mendukung yang Allah dan Rasul-nya benci dan membenci yang Allah dan Rasul-nya cinta,” ujar Ustaz Ahmad Rizal.

‎Menurutnya, salah satu dari prinsip akidah dalam Islam adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, yaitu mencintai dan memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum Mukminin, dan membenci kaum musyrikin dan orang-orang kafir serta berpaling (bara’) dari mereka.

Jadi ciri akidah yang benar adalah mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, ia condong dan melakukan semua itu dengan penuh komitmen. Dan mencintai orang yang dicintai Allah, seperti seorang mukmin, serta membenci orang yang dibenci Allah, seperti orang kafir, musyrik dan munafik, secara terus-menerus dan penuh komitmen.

“Al-Wala dan al-Bara’ merupakan ajaran pokok dalam Islam. Menjadikan orang-orang kafir sebagai musuh dan menjadikan orang-orang Islam sebagai kawan merupakan ciri orang yang beriman. Ketika sifat ini tidak ada, keimanan hilang dan seseorang telah keluar dari Islam.

Anggota IKADI dan IKAT Aceh ini mengungkapkan, aqidah wala’ dan bara’ yang agung ini, sekarang sudah banyak dilanggar oleh umat Islam, baik secara sengaja karena lebih mengutamakan kepentingan dunia maupun karena ketidaktahuan.

“Peristiwa hari-hari ini bisa mejadi contoh paling kongkrit dan aktual.‎ Ketika kita melihat banyak tokoh-tokoh yang kita kenal sebagai muslim, tapi ia lebih mendukung dan membela orang-orang kafir, orang-orang yang telah menghina Islam, memperjuangkan maksiat dan kemungkaran yang dibenci Allah hanya demi mendapatkan materi dunia. Sementara kepada orang Islam yang masih teguh memegang ajaran agamanya karena Allah semata, justru dituduh intoleran, radikal dan dikucilkan,” ungkap alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini.

Ustaz Ahmad Rizal menjelaskan, sikap mencintai yang dibenci Allah dan memusuhi yang dibenci Allah merupakan perilaku mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil, merusak pemahaman Islam, serta menempatkan dalil bukan pada tempatnya menjadi persoalan aqidah yang harus diwaspadai umat Islam pada saat ini.

“Di antara ajaran Islam yang tidak banyak diketahui oleh umat karena sudah dirusak oleh musuh Islam dan berusaha dicabut dari hati kaum muslimin adalah pemahaman wala’ dan bara’ ini‎. Cinta karena Allah dan benci karena Allah termasuk ikatan Iman yang paling kokoh.

Ditambahkanya, keberadaan muslim yang loyal dengan wala’ dan bara’ ini dan teguh serta loyal pada Islam, saat ini sangat dibutuhkan di tengah umat, meskipun dia terkadang harus menghadapi cobaan yang berat, karena muslim ini yang mampu mencegah kemaksiatan untuk menghindari murka Allah.

“Sepanjang manusia masih ada, sepanjang kiamat belum ada, meskipu langka akibat beratnya cobaan yang harus dihadapi, akan selalu ada di setiap zaman orang-orang muslim yang wala’ dan bara’ ini, ia akan melawan dengan segala kemampuannya terhadap siapapun yang merongrong agama Allah di atas muka bumi. Pada akhirnya, golongan inilah yang menang,” pungkasnya. []

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here