Beranda Infotaiment Kerajaan Jeumpa Memiliki Hubungan dengan Majapahit, Tgk Muharuddin: Banyak Sejarah Aceh yang...

Kerajaan Jeumpa Memiliki Hubungan dengan Majapahit, Tgk Muharuddin: Banyak Sejarah Aceh yang Terlupakan

BERBAGI
Ketua DPRA Tgk. Muharuddin saat berziarah ke Makam Raja Jeumpa, Bireuen. [Foto: Istimewa]

BIREUEN – Kerajaan Jeumpa yang merupakan kerajaan tua di Bireuen, ternyata memiliki hubungan sejarah dengan Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan besar di Pulau Jawa. Putri dari Raja Abdullah (raja pertama kerajaan Jeumpa) yakni Darwati (Dharawati) yang dikenal dengan sebutan Ratu Jeumpa (Champa dalam dialek Jawa) merupakan permaisuri dari Raja Majapahit, yaitu Raja Brawijaya (sekitar abad ke 14).

Hal itu diketahui Ketua DPRA Tgk. Muharuddin setalah berziarah ke Makam Raja Jeumpa yang berada di Gampong Blang Seupeueng, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, saat memenuhi undangan Khauri Blang masyarakat Jeumpa, Bireuen, Senin (15/10/2018).

“Banyak yang tidak mengetahui tentang sejarah kerajaan Aceh ini. Untuk itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh perlu mengali kembali tentang sejarah-sejarah kerajaan di Aceh, seperti halnya sejarah kerajaan Jeumpa dan mempomosikannya kembali agar diketahui para generasi muda Aceh dan masyarakat luar,” ujar Tgk. Muharuddin.

Keturunan dari Raja Brawijaya dan Ratu Jeumpa, kata Tgk. Muharuddin, adalah Raden Fattah, yang merupakan Raja Demak (Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, yang mengakhiri kerajaan hindu di Jawa). Sejarah Putri Jeumpa ini, kata Tgk. Muhar, termasuk sunan-sunan wali sembilan (wali songo) yang beberapa di antaranya berasal dari Aceh membuktikan Aceh adalah pelopor dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa dan nusantara.

“Walaupun memiliki sejarah yang luar biasa, sangat ironis saya melihat areal makam Raja Jeumpa saat ini kondisinya memprihatinkan. Saat acara Khauri Blang masyarakat Jeumpa hanya digelar di atas tanah yang beralaskan tikar. Akses jalan menuju ke makam Raja Jempa juga sangat sulit. Seharusnya di sana ada mushalla dan balai untuk fasilitas masyarakat berziarah ke makam Raja Jeumpa,” ungkapnya.

“Dengan kebesaran dari salah satu raja tertua di Aceh ini, tentunya harus menjadi perhatian khusus dari pemda setempat serta didukung oleh Pemerintah Aceh, agar makam ini dapat menjadi salah satu cagar budaya sejarah Aceh yang dapat mudah diakses masyarakat Aceh maupun wisatawan luar yang berkunjung ke Aceh,” ungkap Tgk. Muhar.

Aceh, Tgk. Muharuddin menambahkan, memiliki juga memiliki berbagai sejarah kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang berada di bawah naungan Kerajaan Aceh Darussalam, seperti Kerajaan Linge dan Meureuhom Daya, serta berbagai kerajaan lainnya. Untuk itu, Tgk. Muharuddin juga meminta Disbudpar Aceh dan pihak terkait dapat menggali kembali sejarah kejaraan-kerajaan kecil lainnya di Aceh dengan memperkuatnya dengan bukti-bukti yang ada, agar cerita tentang kebesaran sejarah kerajaan di Aceh tidak menjadi dongeng.

Lestarikan Adat dan Budaya Aceh

Selain menggali sejarah kerajaan Aceh, Ketua DPRA juga berharap Disbudpar Aceh turut melestarikan kegiatan adat dan budaya Aceh seperti halnya Khauri Blang, yang digelar masyarakat Jeumpa Bireuen.

“Kita sangat bersyukur kalangan masyarakat Aceh saat ini, masih menjaga adat dan budaya Aceh seperti Khauri Blang, yang merupakan kegiatan tradisi syukuran para petani di Aceh usai panen yang berlandaskan syariat Islam, dengan menggelar zikir dan doa bersama, serta membagikan sedikit hasil panen mereka dalam bentuk makanan kepada masyarakat miskin dan anak yatim,” jelas Tgk. Muharuddin.

Tgk. Muharuddin menjelaskan, Khauri Blang merupakan tradisi yang telah dilakukan masyarakat Aceh sejak masa kerajaan Aceh silam, tepatnya sekitar tahun 150 hijriah atau abad ke 8 masehi.

“Artinya, ini warisan dan tradisi dari para raja-raja dan endatu kita, yang telah dilakukan sejak dulu. Untuk itu, kegiatan-kegaitan tadisi Aceh seperti ini harus terus dilestarikan. Karena kalau ada istiadat Aceh tidak dilestarikan, maka seperti pepatah Aceh; Matee ureung meupat jrat, matee adat pat tamita,” ujar Tgk. Muhar. [Reza Gunawan]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here