Beranda Tausiah Cari dan Gunakan Harta untuk Kesuksesan Akhirat

Cari dan Gunakan Harta untuk Kesuksesan Akhirat

BERBAGI
Ustaz Agusri Syamsuddin MA (Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah STAI Tgk. Chik Pante Kulu) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) Rabu (26/9) malam. [Foto: Istimewa]

Setiap manusia memiliki rasa senang dengan yang namanya harta, tak terkecuali, bagi muslim sekalipun. Karena Allah SWT telah menghadirkan rasa senang pada manusia terhadap harta, dalam semua bentuknya.

Dalam Islam, harta yang merupakan bagian dari kebahagiaan sesaat dalam kehidupan dunia dan bukanlah sebagai tujuan utama dalam hidup. Dia memiliki fungsi, namun bukan satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

Untuk itu Allah memerintahkan pada manusia untuk mencari harta dengan tujuan akhir meraih kebahagiaan di akhirat kelak, sebagaimana hal tersebut telah Allah anugerahkan kepada kita. Tentu saja, untuk mencari harta tersebut Allah memerintahkan untuk mencari harta yang halal dan tidak bertentangan dengan aturan atau jalan hidup yang telah dijalankannya.

Demikian antara lain disampaikan Ustaz Agusri Syamsuddin MA (Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah STAI Tgk. Chik Pante Kulu) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) Rabu (26/9) malam.

“Mencari harta dalam Islam ada aturannya, bukanlah hendak menjadikan manusia bertambah kaya, terus memperbesar keuntungan bagi dirinya sendiri tanpa memikirkan kesusahan di sekitarnya. Mencari harta yang diakaruniakan oleh Allah adalah hendak menjadikan manusia semakin bersyukur dan semakin tunduk kepada Allah SWT. Untuk itu adanya fungsi Agama adalah untuk menjaga agar penggunaan harta tidak melenceng hanya untuk bersenang-senang di dunia saja,” ujar Ustaz Agusri Syamsuddin.

Pengurus PN Ikatan Sarjana Alumni Dayah (I‎SAD)‎ Aceh ini menegaskan, ukuran kesuksesan di sisi Allah bukanlah pada besarnya harta yang manusia miliki. Ukuran sukses di sisi Allah adalah pada bagaimana manusia mampu memberikan dan memanfaatkan apa yang dimilikinya (termasuk harta) untuk tujuan akhirat, yaitu pahala yang sebanyak-banyaknya.

Alangkah beruntung dan bersyukurnya jika manusia memiliki harta yang banyak dan dengan harta tersebut ia mampu memberikan manfaat yang besar untuk umat, untuk manusia lainnya. Dari hal tersebut, akan muncul kebaikan-kebaikan lain yang dia tebarkan dengan harta.

Membantu orang yang kesusahan, memberikan bantuan pada fakir miskin, mengeluarkan orang dari cobaan yang berat dengan hartanya tentunya adalah pahala tersendiri, menyalurkan infak dan wakaf dalam Islam, apalagi jika hal tersebut dilakukan ikhlas kepada Allah semata. Lebih bermakna lagi jika harta tersebut bisa menjadi amal jariah, yang mampu menyelamatkan-nya karena pahala yang terus mengalir hingga waktu penghisaban tiba.

‎”Tidak selamanya harta senantiasa membawa keberkahan, jika dicari dari jalan-jalan yang keliru seperti menipu, transaksi riba, mengurangi timbangan atau menimbun barang. Jika hal seperti itu dilakukan maka harta bisa saja menjadi musibah bukan lagi keberkahan. Jika musibah datang, maka harus sabar, ikhlas, mengevaluasi diri terhadap kesalahan dalam mencari harta, dan banyak bertaubat. Cara menghadapi musibah dalam Islam adalah dengan cara tersebut, bukan mengutuk keadaan atau menyalahkan orang lain atas musibah yang terjadi,” sebutnya.

Dalam Alquran dijelaskan prinsip-prinsip untuk menggunakan harta menurut Islam. Islam berada di keseimbangan antara menggunakan harta menurut Islam seperti melaksanakan infaq dan zakat.

“‎Lupa berinfak berarti lupa masa depan setelah kematian. Makanya, sebelum kalian mati berinfaklah‎ ketika hidup. Jangan lalu bersedekah dan berinfak ketika sudah mati oleh ahli waris kita
Kalau kita tahan harta untuk infak dan sedekah‎, maka Allah akan ambil dengan cara paksa. Ada saja cara Allah untuk mengambilnya hingga keluar lebih besar, karena dalam harta kita ada hak orang lain, maka berbagilah semampunya,” tegasnya,‎

‎Imam Masjid Al-Wustha Perumnas Jeulingke ini menambahkan, melaksanakan infaq dan zakat dalam Islam, bukan serta merta sebagai bentuk perbuatan yang harus dibanggakan. Infaq dan zakat adalah kewajiban karena harta yang kita cari bukan milik manusia.

Harta yang Allah berikan adalah nikmat dan karunia bagi manusia. Infaq dan zakat adalah menyerahkan nikmat dan karunia tersebut untuk diberikan kepada manusia lain yang membutuhkan atau digunakan untuk berjuang di jalan Allah dan orang yang termasuk syarat penerima zakat lainnya atau penerima zakat.‎

“Dalam Islam tidak ada aturan berinfaq dan zakat dengan menyerahkan seluruh apa yang dimiliki hingga tidak bisa memenuhi kebutuhan pribadi. Meskipun begitu, tentunya memenuhi kebutuhan pribadi tidak berarti dilakukan berlebihan, dengan membuang-buang harta yang dimiliki untuk sesuatu yang tidak bermanfaat baik di dunia dan akhirat,” terangnya.‎

Dalam prinsip penggunaan harta, Allah juga melarang umat Islam untuk memiliki sifat kikir atau bakhil. Bakhil atau kikir itu artinya menyembunyikan harta untuk diberikan di jalan kebaikan, tidak mau untuk menafkahkan hartanya selain untuk kepentingan dirinya sendiri. Sifat kikir atau bakhil ini sangat dibenci Allah bahkan diberikan siksaan di akhirat pada mereka dan termasuk pada golongan syetan. Sifat bakhil atau kikir ini juga merupakan ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT.

Tidak ada artinya memelihara sifat kikir apalagi untuk dinafkahkan dalam jalan yang baik, menolong umat yang kesusahan, dan berbagai program untuk kemajuan islam. Kikir terhadap hal-hal tersebut, apalagi bagi mereka yang memiliki harta berlimpah dan lebih, menjadi dosa tentunya. Ada hak umat Islam di dalamnya. Sejatinya hal tersebut bukanlah harta miliknya sendiri.

‎”Pemilik mutlak harta adalah Allah. Dialah, Allah, Zat yang maha kaya, semua yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah swt. Dan semuanya akan kembali kepada Allah. Sebagai pemilik mutlak, Allahlah yang berhak untuk mengatur harta itu harus digunakan untuk apa saja. Adapun manusia, kepemilikannya hanyalah titipan dari Allah. Kapan pun pemilik akan mengambilnya, manusia selaku pihak yang dititipi harus ridha untuk menyerahkannya, “ sebutnya.

Ustaz Agusri menyampaikan, mengingat pertanggungjawaban kelak di akhirat cukuplah berat, untuk itu kita harus pandai-pandai mengelola harta, menafkahkannya di jalan Allah secara maksimal. Allah tidak menilai dari seberapa harta yang kita miliki, namun dari seberapa besar dan optimal yang sudah kita berikan untuk kebaikan-kebaikan. Agar hati tenang dalam Islam, kita diperintahkan untuk senantiasa mengingat (berdzikir) kepada Allah atas segala apa yang kita miliki, hilang, atau kita usahakan agar keberkahan selalu datang.‎

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here