Beranda Nanggroe 26 September, Pemerintah Aceh Uji Sirene Tsunami di Enam Lokasi

26 September, Pemerintah Aceh Uji Sirene Tsunami di Enam Lokasi

BERBAGI
Ilustrasi Sirene Tsunami di Aceh. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh kembali merencanakan untuk menguji coba suara asli sirene tsunami di enam lokasi yang berbeda di pinggir kawasan pantai pada dua kabupaten/kota di provinsi paling barat Indonesia itu pada Rabu, 26 September 2018, pukul 10.00 WIB.

“Kegiatan uji coba ini merupakan bagian dari pengecekan rutin demi memastikan alat tersebut berfungsi dengan baik,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Jumat (21/9/2018).

Sebelumnya, lanjut dia, hal yang sama telah dilakukan pada Agustus 2018, dan setiap tanggal 26 tepat pukul 10.00 WIB di enam lokasi sirene tsunami baik Aceh Besar maupun Banda Aceh.

Keenam lokasi tersebut meliputi Sirene Kajhu di Baitussalam, Sirene Lhoknga di Lhoknga, dan Sirene Lam Awe di Peukan Bada, ketiganya di wilayah Aceh Besar. Sisanya di Banda Aceh meliputi Sirene Lampulo di Kuta Alam, Sirene Blang Oi di Meuraxa, dan Sirene Kantor Gubernur Aceh di Bandar Baru.

BPBA bekerja sama dengan instansi terkait lain, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Aceh untuk melakukan evaluasi terhadap alat tsunami “early warning system” atau sistem peringatan dini tsunami.

“Ada tiga kecamatan, baik di Aceh Besar dan Banda Aceh. Kami berharap warga di enam kecamatan ini, jika mendengar sirene tsunami tidak panik dan khawatir. Tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa,” katanya.

Teuku mengatakan, pada tanggal 26 setiap bulan sengaja dipilih sebagai hari untuk membunyikan sirene tsunami untuk mengenang peristiwa yang meluluhlantakkan Aceh akibat dipicu oleh gempa bumi berkekuatan 9,3 skala Richter, dan disusul tsunami pada 26 Desember 2004.

“Tujuan kegiatan ini, supaya masyarakat kita semakin peka atau responsif terhadap isyarat bencana datang,” tutur Dadek.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBA, Mukhsin Syafii, mengatakan kegiatan itu sebagai bagian dari sosialisasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang tidak bisa diprediksi kapan waktu datangnya.

“Masyarakat setempat di enam kecamatan, jangan panik. Waktu sirene ini berbunyi selama dua menit dengan dua kali pencet, dan terdengar hingga radius 7.000 meter,” ucap dia. [Tempo/Antara]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here