Beranda Infotaiment Lewat “Tarek Pukat”, Sanggar KSA Meriahkan Anjungan Lhokseumawe di PKA-7

Lewat “Tarek Pukat”, Sanggar KSA Meriahkan Anjungan Lhokseumawe di PKA-7

BERBAGI
Penampilan Sanggar KSA di Anjungan Kota Lhokseumawe memeriahkan PKA-7. [Foto: Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Sanggar Komunitas Seni Aceh (KSA) memeriahkan Anjungan Kota Lhokseumawe dalam ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 lewat penampilan tarian tradisi Aceh “Tarek Pukat”, Minggu sore (12/8/2018).

Dalam penampilan yang menceritakan kehidupan nelayan Aceh ini, para penari KSA yang diiringi tabuhan rapai dan lantunan seurune kale mampu “menghipnotis” para pengunjung Anjungan Kota Lhokseumawe.

Ketua Sanggar Komunitas Seni Aceh Syazali didampingi Koordinator Kontingen KSA untuk PKA-7 Firman mengatakan persiapan penampilan KSA untuk PKA-7 hanya dilakukan satu bulan sebelum penghelatan PKA berlangsung.

“Awalnya kami tidak masuk sebagai peserta PKA-7 dari Kota Lhokseumawe, meskipun dua kali penghelatan PKA sebelumnya yaitu PKA ke 5 dan 6 kami selalu jadi bagian dari kontingen Lhokseumawe. Namun menjelang acara kami dihubungi Dewan Kesenian Aceh (DKA) Lhokseumawe, yang akhirnya diajak turut memeriahkan PKA-7,” ujar Syazali.

Meskipun dengan tawaran tanpa bayaran khusus dan segala keterbatasan, Syazali menjelaskan, KSA tetap berusaha mempersiapkan tim ke PKA-7 dan menampilkan penampilan terbaik.

“Kami berangkat berjumlah 15 orang yang terdiri dari penari, pemusik, dan official. Uang saku per orang cuma diberikan Rp 35 ribu (total Rp 750 ribu untuk keseluruhan anggota tim). Namun kami tetap mengucapkan terimakasih kepada Disbudpar Lhokseumawe, yang telah melibatkan KSA menjadi bagian dari kontingen Kota Lhokseumawe untuk ajang seni dan budaya terbesar di Aceh ini,” ujarnya.

Selain penampilan di Anjungan Kota Lhokseumawe, Syazali menambahkan, KSA rencananya malam ini juga akan tampil di acara Aceh Expo 2018 di Blang Padang, yang merupakan bagian dari ajang PKA-7. Di Aceh Expo, KSA akan menampilkan tarian Ratoeh Jaroe dan Tarek Pukat secara bersamaan dalam satu penampilan

“Di sini kami tidak dibayar sedikitpun, namun demikian kami bersyukur bisa diberikan kesempatan sebagai pengisi acara,” ungkapnya.

Syazali berharap melalui ajang PKA-7 ini menjadi refleksi  bagi Pemerintah Aceh, khususnya Kota Lhokseumawe dalam memberikan perhatian bagi seni dan budaya Aceh.

“Semoga ke depan jajaran pemerintah di Aceh, khususnya di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak hanya memberikan perhatian khusus bagi sanggar pemerintah saja, tetapi juga dapat memberikan perhatian bagi sanggar-sanggar kecil seperti kami,” harapnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here