Beranda Ekonomi Rokok Sumber Kemiskinan Kedua di Aceh

Rokok Sumber Kemiskinan Kedua di Aceh

BERBAGI
Ilustrasi rokok

BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis, pada Maret 2018 jumlah penduduk miskin di Tanah Rencong mencapai 839 ribu orang (15,97 persen). Angka ini bertambah sebanyak 10 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2017 yang jumlahnya 829 ribu orang (15,92 persen).

Sementara jika dibanding dengan Maret 2017, angka kemiskinan di Aceh mengalami penurunan sebanyak 33 ribu orang (16,89 persen). Selama periode September 2017-Maret 2018, presentase penduduk miskin di daerah perkotaan dan perdesaan mengalami kenaikan. Di perkotaan mengalami kenaikan sebesar 0,02 persen dan di perdesaan mengalami kenaikan 0,13 persen.

“Komoditi makanan yang berpengaruh terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di pedesaan, di antaranya adalah beras, rokok, dan ikan tongkol, tuna, dan cakalang. Sedangkan untuk komoditi bukan makanan yang berpengaruh adalah biaya perumahan, bensin dan listrik,” kata Kepala BPS Aceh Wahyuddin dalam konferensi pers, Senin (16/7/2018).

Menurut Wahyuddin, kebutuhan masyarakat Aceh terhadap rokok di Aceh masih tergolong tinggi. Para pengisap rokok ini mulai kalangan bawah hingga atas. Dalam sehari, satu keluarga miskin bisa menghabiskan sekitar 10 batang rokok.

“Itu kebutuhan rokok. Andaikan itu bisa dikurangi dan kita alihkan ke kebutuhan lain yang kira-kira akan menambah kalori ke kita. Dikurangi, bukan dihentikan, itu akan lebih bagus. Artinya juga berpengaruh terhadap kemiskinannya,” jelas Wahyuddin.

“Rokok itu tidak berpengaruh terhadap kalori tetapi pengeluarannya itu cukup besar. Berpengaruh terhadap garis kemiskinan nomor dua setelah beras,” ungkapnya.

Sementara jika dilihat dari tahun 2015 hingga 2018, angka kemiskinan di Aceh naik turun. Pada Maret 2015, misalnya, jumlah penduduk miskin mencapai 851,59 ribu (17,08 persen) kemudian meningkat menjadi 859,41 ribu (17,11 persen) pada September 2015.

Selanjutnya angka kemiskinan turun menjadi 848,44 ribu orang (16,73 persen) pada Maret 2016 dan kembali turun pada periode berikutnya mencapai 841,31 ribu orang (16,43 persen) di September 2016. Pada periode Maret 2017 terjadi peningkatan kembali menjadi 872,61 ribu orang (16,89 persen), dan kembali turun menjadi 892,80 ribu (15,92 persen) pada September 2017.

“Kenaikan kembali terjadi pada periode Maret 2018 menjadi 838,49 ribu orang (15,97 persen),” jelas Wahyuddin. [Detik]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here