Beranda Lingkungan Tsunami Pernah Melanda Aceh 7.400 Tahun Lalu

Tsunami Pernah Melanda Aceh 7.400 Tahun Lalu

BERBAGI
Pemaparan tentang Goa Tsunami Purba di Aceh. [Foto: Kompas.com]

BANDA ACEH – Selain bencana tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 lalu, ternyata Aceh juga pernah mengalami bencana serupa sekitar 7.400 tahun yang lalu.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah gua yang meninggalkan jejak tsunami purba di Kabupaten Aceh Besar.

Goa ini oleh warga setempat diberi nama Ek Lentie, yang artinya kotoran kelelawar, yang berlokasi di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.

Pembuktian ini dipaparkan Nazli Ismail, peneliti dari lembaga Tsunami & Disarter Mitigation Research Centre (TDMRC).

Disebutkan Nazli, pihaknya telah melalukan penggalian untuk melihat sejarah tsunami mulai dari 7.400 tahun lalu hingga kejadian tahun 2004.

“Di gua tersebut ditemukan endapan-endapan tanah yang berasal dari gelombang tsunami dan kotoran kelelawar yang hidup di gua. Karena ada kotoran kelelawar ini, gua ini dinamakan Ek Lantie alias kotoran kelelawar,” ujar Nazli saat memaparkan hasil penemuan tersebut di Aula Kantor Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Senin (28/5/2018).

Kepala Pelaksana BPBA Teuku Ahmad Dadek mengatakan, penemuan gua endapan tsunami di Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, ini merupakan suatu penemuan penting untuk memperkaya kajian tsunami di Aceh.

Menurutnya, Aceh menjadi tempat paling bagus untuk pembelajaran tsunami dan menjadi laboratorium untuk memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan bencana di masyarakat sehingga penemuan ini perlu didorong dalam pelestariannya.

BPBA juga telah menginisiasi agar gua purba tsunami ini bisa menjadi situs sejarah tsunami. Ahmad Dadek juga berharap agar nantinya gua tsunami purba selain ini bisa dijadikan tempat pendidikan, juga menjadi lokasi kunjungan wisata tsunami.

“Kita juga akan menjadikan lokasi ini sebagai Geopark untuk pelestarian gua ini, selain itu ini juga menjadi landasan bagi warga untuk terus meningkatkan pemahaman kesiapsiagaan terhadap bencana,” kata Dadek.

Untuk itu, Ahmad Dadek berpesan kepada camat dan geuchik (kepala desa) setempat agar gua tersebut dijaga dan diberikan papan nama segera dengan tulisan bahwa itu situs tsunami. [Kompas.com]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here