Beranda Ekonomi Murdani Yusuf: Di Bireuen Masih Ada Bilik Dayah yang Gunakan Pelepah Rumbia

Murdani Yusuf: Di Bireuen Masih Ada Bilik Dayah yang Gunakan Pelepah Rumbia

BERBAGI
Anggota DPRA Daerah Pemilihan Bireuen Murdani Yusuf. [Foto: Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Murdani Yusuf menerima laporan dari masyarakat terkait adanya bilik dayah (pasantren) di Bireuen yang masih menggunakan pelepah rumbia. Hal itu disampaikan masyarakat Bireuen kepada Murdani Yusuf saat melakukan reses beberapa waktu lalu.

“Seharusnya dayah-dayah di Aceh, harus mengikuti era perkembangan. Tidak mungkin lagi santri dayah mondok di bilik yang terbuat dari pelepah rumbia,” kata Murdani Yusuf kepada acehonline.info, Senin sore (21/5/2018), di Ruang Komisi III DPRA.

Pemerintah Aceh, kata Murdani Yusuf, harus memikirkan pembangunan sarana dan prasarana pembangunan di dayah. Hal itu karena menurutnya peran santri dan dayah merupakan ujung tombak dalam penguatan syariat Islam di Aceh.

“Bireuen, khususnya Samalanga dikenal dengan ‘kota santri’, di mana banyak santri-santri yang juga berasal dari luar negeri, khususnya Malaysia. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian dari Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Pendidikan Dayah,” ujarnya.

Terkait adanya laporan ini, Murdani Yusuf mengatakan akan menyampaikannya persoalan tersebut ke Komisi VII DPRA yang membidangi agama agar dapat menindaklanjuti nantinya ke dinas terkait, agar dayah-dayah di Aceh, khususnya Bireuen mendapatkan perhatian khusus.

Banyak warga tak memiliki rumah

Selain laporan persoalan sarana dan prasarana dayah, Murdani Yusuf dalam resesnya juga menerima informasi terkait banyaknya masyarakat Bireuen, yang tidak memiliki rumah.

“Ada warga Bireuen yang satu rumah sudah beberapa kepala keluarga, anak cucunya di situ semua tinggal serumah. Kondisi rumahnya juga tidak layak,” ujarnya.

Terkait persoalan ini, Murdani mengharapkan Dinas Perumahan dan Permukiman Aceh, di mana tidak hanya memberikan bantuan rumah bagi warga yang mampu menyediakan tanah.

“Kalau untuk keluarga fakir, jangan hanya dibantu rumah saja, tetapi tanahnya juga sekalian. Bagaimana mereka menyediakan tanah untuk dibangun rumah, kadang mata pencaharian (kerja) saja mereka tidak ada,” ujarnya.

Murdani menilai, dibandingkan memberikan bantuan bagi masyarakat yang tidak layak huni, lebih baik diberikan bantuan bagi yang tidak memiliki rumah.

“Yang tidak layak huni bukannya tidak boleh diberikan, itu tetap dianggarkan, tetapi untuk yang tidak memiliki rumah sama sekali, harus menjadi prioritas,” ungkapnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here