Beranda Infotaiment Teuku Raja Meurah: Makam Belanda Tertata Rapi, Makam Kerajaan Aceh Terbengkalai

Teuku Raja Meurah: Makam Belanda Tertata Rapi, Makam Kerajaan Aceh Terbengkalai

BERBAGI
Para keturunan raja, tokoh ulama, dan pakar sejarah Aceh menggelar konferensi pers di Banda Aceh.

BANDA ACEH – Teuku Raja Meurah yang merupakan keturunan raja Aceh dari Sagoe 26 Kutaraja mengatakan saat ini Pemerintah Aceh tidak memperdulikan situs-situs kerajaan Aceh, khususnya makam para raja dan pejabat kerajaan Aceh. Menurutnya, banyak makam raja, keluarga kerajaan, serta pejabat-pejabat kerajaan terdahulu yang kini terbengkalai dan tidak terawat.

“Makam Belanda di Aceh (Kerkhof) bisa dilihat tertata dengan rapi dan dirawat oleh Pemerintah Aceh, sementara makam raja dan pejabat kerajaan Aceh terbengkalai, bahkan ada yang berada di rawa-rawa tidak diperdulikan,” kata Teuku Raja Meurah saat menggelar konferensi pers, Kamis (3/5/2018), di Banda Aceh.

Kerkhof Peucut, areal pemakaman serdadu Belanda di Banda Aceh. [Foto: Istimewa/KSMTour]
Raja Meurah menjelaskan persoalan ini telah beberapa kali disampaikannya kepada pemerintah Aceh, namun menurutnya tidak ada respon sama sekali dari pemerintah.  Dalam hal penyelamatan situs kerajaan Aceh, kata dia, pemerintah juga tidak mengalokasikan anggaran.

“Penyelamatan situs sejarah Aceh saat ini dilakukan oleh lembaga-lembaga masyarakat yang mengadalkan dana pribadi, seperi MAPESA, CISAH, serta berbagai lembaga lainnya yang bukan berasal dari pemerintah,” ujarnya.

“Untuk itu, kami sangat mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada lembaga-lembaga ini yang telah ikhlas bekerja menyelamatkan situs sejarah Aceh.”

Makam peninggalan kerajaan Aceh terbengkalai di Gampong Pande. [Foto: MAPESA]
Untuk menyelamatkan situs-situs sejarah di Aceh, T Raja Meurah menyampaikan perlu adanya regulasi atau qanun yang mengatur terkait hal tersebut.

“Persoalan qanun ini juga pernah kami sampaikan, tapi tidak ada tanggapan dan tindak lanjut sampai sekarang,” ujar Raja Meurah yang merupakan keturunan T. Nyak Arief ini.

Raja Meurah juga mengatakan, persoalan penyelamatan situs sejarah Ace sangat diperlukan, karena hal itu adalah inti dari idesntitas Aceh.

“Jika tidak dilakukan penyelamatan, maka nama besar Aceh dan cerita-cerita sejarah hanya akan dianggap dongeng, karena tidak ada lagi bukti sejarah yang ditinggalkan,” ujarnya.

“Bangsa yang hilang sejarah dan kebudayaannya maka akan berada di ambang kehancuran,” tambahnya.

Sementara itu Teuku Raja Nasruddin, yang merupakan keturunan Raja Kuala Batee mengatakan upaya penyelamatan situs kerajaan Aceh, bukan hanya tugas dari para keturunan raja atau pejabat perajaan.

“Ini tugas masyarakat Aceh seluruhnya. Sama-sama kita harus menjaga dan menyelamatkan peninggalan endatu ini,” ujarnya.

Menurutnya Raja Nasruddin, penyelamatan situs kerajaan dan sejarah Aceh sangat diperlukan, agar para generasi muda Aceh kembali mencintai dan mengetahui kebesaran nama Aceh pada masa lampau.

“Kami sedang mendata dan menginventarisir apa-apa saja dan di mana saja bekas-bekas kerajaan di Aceh dan peninggalannya. Untuk itu, perlu dukungan dari pemerintah dan masyarakat Aceh agar ini bisa dirampungkan serta adanya qanun yang mengatur tentang penyelamatan situs sejarah Aceh,” ungkapnya.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh di Bawah Sumatera Utara

Teuku Raja Saifullah yang merupakan kerutunan Raja Meureuhoem Daya mengatakan Aceh memerlukan Balai Pelestarian Cagar Budaya sendiri yang dibentuk sesuai dengan Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA).

“Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh saat ini berada di bawah naungan Sumatera Utara. Seharusnya Aceh harus punya lembaga cagar budaya sediri, karena Aceh memiliki kekhususan dan memiliki kebesaran sejarah yang besar pada masa lampau,” ujarnya.

Para keturunan raja, tokoh ulama, dan pakar sejarah Aceh menggelar konferensi pers di Banda Aceh. [Foto: Reza Gunawan]
Hal ini, kata Raja Saifullah, dikhawatirkan tidak ada upaya optimal dalam penyelamatan situs sejarah Aceh. Menurutnya, persoalan ini jangan dianggap remeh oleh para aparatur pemerintah di Aceh.

“Jangan sampai situs-situs sejarah di Aceh nantinya hilang semua tidak ada lagi berubah menjadi areal perumahan dan pertokoan. Maka nantinya, Bangsa Aceh akan bernasih sama dengan Bangsa Rohingya di Myanmar,” ujarnya.

Gelar Zikir dan Doa Bersama di Gampong Pande

Keturunan raja-raja Aceh direncanakan akan menggelar zikir dan doa bersama di kawasan bekas kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande, Kutaraja, Banda Aceh pada Minggu, 6 Mei 2018. Zikir yang dinamakan Samadiah Istana Darul Makmur ini digelar untuk mendoakan para endatu dan raja-raja Aceh yang terdahulu, yang telah menyelamatkan Aceh dari penjajaran kafir portugis dan belanda.

“Zikir ini sebagai rasa terima kasih anak cucu Aceh kepada para endatu terdahulu. Mereka tidak meminta BMW (mobil) atas apa yangg mereka lakukan dahulu, mereka hanya meminta doa. Jika tidak orang-orang terdahulu, mungkin kita saat ini masih menyembah pohon atau berhala,” kata Ketua Panitia Pelaksana Zikir dan Doa bersama tersebut, Teuku Raja Saifullah, yang merupakan keturunan Raja Meureuhoem Daya.

Samadiah Istana Darul Makmur, kata Raja Saifullah, yang akan diagendakan setiap tahunnya ini akan dihadiri oleh para pewaris dan kerujunan raja dan pejaba-pejabat kerajaan Aceh Darussalam dan kerajaan-kerajaan sebelum Aceh Dasarussalam.

“Sebelum Aceh Darussalam, sudah ada kerajaan-kerajaan lainnya seperti Kerajaan Pasai, Tamiang, Jeumpa, Peureulak, Pedir, Linge,  serta sejumlah kerajaan-kerajaan lainnya di Negeri Daya dan Negeri Meulaboh, seperti Kerajaan Trumon, Kuala Batee, dan sebagainya,” ungkap Raja Saifullah.

Para keturunan raja dan pasukan kerajaan, kata Teuku Raja Saifullah, akan memakai pakaian adat kerajaan dan alat-alat perang yang digunakan pada masa kerajaan dahulu, seperti siwah, rencong, dan pedang raja lainnya.

“Semoga dengan digelarnya zikir dan doa bersama ini, akan membawa Aceh ke arah yang lebih baik nantinya, serta dapat membawa rahmat bagi Aceh agar selalu aman dan tentram,” ujarnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here