Beranda Ekonomi PENGAMAT: Perekonomian di Aceh Buruk

PENGAMAT: Perekonomian di Aceh Buruk

BERBAGI

BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik Aceh beberapa waktu lalu merilis di Aceh terjadinya inflasi atau kenaikan harga barang. Inflasi itu terjadi diakibatkan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan sejumlah faktor lainnya.

Harga komoditas sandang biasanya juga akan meningkat menjelang ramadhan dan hari raya.

Pengamat Ekonomi Unsyiah Rustam Effendi menilai inflasi yang terjadi di Aceh tak hanya dipengaruhi dari kelompok itu saja, melainkan juga dipengaruhi oleh ongkos dan biaya produksi yang mahal.

“Itu lebih dominan, selain biaya listrik naik, biaya angkutan juga naik, itu penyebabnya”, kata Rustam.

Menurut Rustam, kenaikan harga tersebut berdampak buruk karena daya beli masyarakat Aceh mengalami stagnan (jalan di tempat), yang menurutnya harus diwaspadai.

“Kalau tidak dikendalikan dan dijaga akan bermasalah ke depan. Dulu uang satu juta bisa beli banyak barang, karena meningkat inflasi dengan uang tersebut, sekarang barang hanya bisa dibeli sedikit,” ujarnya.

Dalam ilmu ekonomi, Rustam menjelaskan, terdapat dua faktor meningkatnya inflasi yaitu biaya produksi mahal dan permintaan (demand) bertambah. Dari sisi permintaan Rustam menilai, tidak mungkin terjadinya tambahan saat ekonomi di Aceh lesu.

“Biasanya ini akan berpengaruh pada sektor usaha, jika biaya produksi meningkat, maka harga jualpun akan mahal,” katanya.

Dari kacamata sebagai pengamat ekonomi, Rustam juga menilai selama ini Aceh sangat lemah dalam penerapan strategi ekonomi.

“Apalagi lima tahun ini ekonomi Aceh sangat buruk, penyebabnya karena selama ini Aceh hanya mengembangkan usaha Informal,” kata Rustam.

“Hanya satu usaha yang ditekan, misalnya kopi, ya sudah usaha kopi saja dikembangkan, padahal kita disana punya KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) yang formal, seperti kilang dan pabrik itu yang seharusnya dikembangkan, ini dilematis,” tambahnya.

Rustam Effendi mengharapkan Aceh harus memanfaatkan KEK Lhoksemawe dan potensi di Sabang, agar bertambah modal besar.

“Kalau itu dimafaatkan kumpulan serikat-serikat pekerja ini pun mereka bisa sejahtera, upah bertambah, dan Injeksi modal untuk Aceh pun bertambah dari situ,” ujarnya

 Aceh punya uang banyak, pengeloaan tak maksimal

Aceh dengan bermodal APBD yang banyak, kata Rustam, belum tentu perekonomi Aceh itu tumbuh. Pemerintah Aceh melalui Gubernur Aceh menurutnya harus memfokuskan nilai tambah terhadap angka APBD melalui pengembangan sektor yang memicu adanya investasi yang masuk ke Aceh.

“Kita punya sektor pertanian, perkebunan dan perikanan yang bagus, mari kita manfaatkan, itulah peluang munculnya investasi”, katanya.

Dengan memanfaatkan peluang itu, Rustam menambahkan, iklim ekonomi di Aceh akan kondusif.

“Mereka para buruh punya bargaining position untuk membuat strategi baru dalam perekonomian”, kata Rustam.

Kemudian dampak lain dengan uang yang banyak menurut Rustam, ekonomi Aceh saat ini belum memuaskan. Misalnya di sektor pertanian, para petani yang menjual hasil panen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Dia mesti nombok sana sini, jadi unggulan sektor pertanian kita belum tersentuh, alokasi belanja kita tidak tertuju tepat ke situ (sektor pertanian),” ujarnya. [Ian Rifa’i]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here