Beranda Nanggroe Tak Sepenuhnya Ditanggung BPJS, Haji Uma Bantu Pasien Bocor Jantung asal Aceh...

Tak Sepenuhnya Ditanggung BPJS, Haji Uma Bantu Pasien Bocor Jantung asal Aceh Selatan

BERBAGI
Bocah Amira, pasien bocor jantung asal Aceh Selatan yang dirujuk ke Jakarta. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Nasib miris dialami keluarga Amira Salsabila, balita berusia 4.9 tahun asal Pasie Raja Aceh Selatan yang menjadi pasien bocor jantung di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) di Banda Aceh. Betapa tidak, Amira harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo (RSUCM) di Jakarta. Sementara keluarga Amira kesulitan untuk biaya perjalanan dan biaya hidup selama mendampingi perawatan Amira di Jakarta.

Namun ternyata, beban keluarga Amira semakin bertambah berat. Biaya tiket perjalanan dan biaya hidup belum tercukupi, kini keluarga juga harus membayar lagi biaya untuk tabung oksigen yang harus menyertainya selama dalam perjalanan ke Jakarta. Beban biaya tabung oksigen yang harus dibayar juga tidak sedikit, yaitu mencapai Rp 17 juta yang harus dibayarkan keluarga kepada RSUZA karena tidak ditanggung dalam fasilitas layanan program BPJS.

Kondisi miris keluarga bocah Amira diketahui acehonline.info berdasarkan informasi dari anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma, Jum’at (27/4/2018). Menurut senator yang dikenal memiliki rasa kepedulian sosial tinggi ini, dirinya dihubungi oleh pihak LSM LEKAS yang menyampaikan kondisi masalah serta berharap dirinya dapat membantu meringankan beban biaya yang dihadapi keluarga Amira untuk proses rujukan perawatan lanjutan di Jakarta.

Setelah mendapat informasi tersebut, Haji Uma kemudian berkomunikasi langsung dengan Thaisir, ayah dari Amira yang menangis tersedu saat menyampaikan kondisi buah hatinya dan masalah yang dihadapinya.

Setelah itu, Haji Uma juga meminta stafnya di Banda Aceh untuk mengecek langsung masalah yang disampaikan itu. Ternyata benar, pihak RSUZA pada prinsipnya mengharuskan pembayaran atas penggunaan alat bantu oksigen sebesar 17 juta rupiah.

Setelah mendapat informasi dari stafnya terkait kondisi rill di RSUZA, Haji Uma menelpon orang tua Amira. Haji Uma mengakui, dirinya begitu miris saat mendengar ucapan ayah Amira yang sudah pasrah dan menyerah atas kondisi yang dihadapinya.

“Saya sudah pasrah dan tidak tau lagi harus berbuat apa, biar anak saya kami bawa pulang kembali ke kampung. Biar kami serahkan semua kepada Allah, mungkin ini sudah menjadi takdir kami”, kata Thaisir yang dikutip Haji Uma.

Mendengar perkataan orang tua Amira, Haji Uma berharap agar keluarga tidak berputus asa dan menyerah karena yang terpenting adalah proses pengobatan Amira. Haji Uma kemudian berjanji untuk membantu keluarga Amira semampu dan semaksimal mungkin dari biaya pribadinya.

“Apa yang dialami keluarga Amira sungguh miris, saat sedang berusaha keras mendapat biaya perjalanan dan biaya kebutuhan hidup selama mendampingi anandanya selama di Jakarta, kembali bertambah bebannya karena harus membayar 17 juta untuk alat bantu oxygen bagi Amira selama diperjalanan ke Jakarta,” ujar Haji Uma.

Menurut Haji Uma, selain tiket pesawat keluarga Amira juga butuh biaya sewa rumah singgah dan biaya hidup bagi pendamping Amira selama dirawat di Jakarta nantinya.

Haji Uma mengakui, selain merasa miris atas kondisi yang ditemui itu, dirinya juga merasa jengkel dengan kondisi layanan kesehatan yang belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat dari golongan kurang mampu dan miskin. Padahal, layanan kesehatan adalah hak asasi dan hak dasar sebagai warga yang harus dipenuhi negara.

“Saya akan mempertanyakan persoalan adanya biaya tambahan ini kepada BPJS dan RSUZA, agar hal ini tidak terulang lagi bagi pasien Aceh yang dirujuk ke luar daerah. Pemerintah Aceh juga harus menyikapi hal ini, kalau buat program jangan setengah-setengah,” ungkap Haji Uma dengan nada kesal. []

BERBAGI

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here