Beranda Tausiah Sya’ban, Bulan Mempersiapkan Kesuksesan Ramadhan

Sya’ban, Bulan Mempersiapkan Kesuksesan Ramadhan

BERBAGI
Ustaz Zul Arafah, Pimpinan Majelis Zikir Arafah, Neusu Banda Aceh, saat mengisi pengajian rutin KWPSI. [Foto: Istimewa]

‎Sya’ban secara urutan bulan hijriah jatuh sebelum Ramadhan. Ini merupakan bulan untuk melakukan persiapan diri bagi umat Islam sebagai pintu gerbang memasuki Ramadhan yang merupakan bulan untuk pembakaran dosa-dosa.

Sukses tidaknya seorang muslim dalam memacu ibadah pada bulan Ramadhan tiap tahun, itu sangat ditentukan dengan persiapan seperti yang dilakukan pada sya’ban baik secara fisik, jiwa maupun hati dalam rangka menyambut datangnya tamu agung tahunan tersebut.

Paling tidak ada, beberapa persiapan utama yang bisa dilakukan seperti memperbanyak puasa-puasa sunat, memperbanyak zikir dan istighfar, meminta maaf kepada sesama muslim yang pernah kita sakiti dan zalimi, mulai meningkatkan membaca Alquran serta mulai membiasakan sedekah dan infaq.

Demikian antara lain disampaikan Ustaz Zul Arafah, Pimpinan Majelis Zikir Arafah, Neusu Banda Aceh, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu malam (25/4/2018).

“Kita jangan sampai lalai dengan waktu yang terus berjalan diputar oleh Allah. Saat ini sudah sya’ban, memasuki bulan Ramadhan beberapa saat lagi. Bagaimana kebiasaan dan semangat kita mempersiapkan diri pada sya’ban ini, itu akan sangat mempengaruhi sukses tidaknya kita meningkatkan ibadah untuk mendapat ampunan dan pembakaran dosa sebulan penuh. Sebuah kesuksesan kerap kali tak bisa lepas dari persiapan yang matang,” terang Ustaz Zul Arafah.

Dijelaskannya, dalam riwayat Imam Bukhari, Aisyah RA. menceritakan, bahwa Rasulullah dalam mempersiapkan diri memasuki Ramadhan, selalu memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Bahkan, tidak ada bulan melebihi bulan Sya’ban di dalamnya Rasulullah berpuasa. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mayoritas berpuasa mayoritas hari-hari bulan Sya’ban.

Pertanyaannya kenapa? Adalah suatu persiapan yang sangat strategis ketika Rasulullah selalu memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Ibarat sebuah turnamen, bulan Ramadhan adalah ajang perlombaan beramal saleh, cerminan ayat “fastabiqul khairaat (berlomba-lombalah dalam kebaikan)”. Karena itu sebelum masuk Ramadhan hendaklah melakukan persiapan-persiapan terlebih dahulu dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

“Kita semua tahu bahwa para peserta turnamen pasti melakukan persiapan sebulan dua bulan sebelumnya. Itulah rahasia mengapa Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Agar tidak loyo selama bulan Ramadhan. Agar lebih maksimal melaksanakan ibadah-ibadah Ramadhan yang semuanya saling melengkapi untuk mengantarkan kepada ketakwaan,” terangnya.

Sya’ban juga menjadi kesempatan terakhir bagi kaum perempuan atau bahkan laki-laki yang pernah tinggal puasa pada bulan Ramadhan sebelumnya, sebelum memasuki Ramadhan tahun ini yang hanya tinggal menghitung hari.

“Jangan lupa segera bayar utang puasa Ramadhan lalu yang terlewat. Para ulama sepakat, hendaknya seseorang membayar utang puasa wajib terlebih dahulu, sebelum menunaikan puasa sunah,” katanya.

Persiapan lainnya juga dengan memperbanyak zikir dan istighfar pada bulan Sya’ban yang bertujuan untuk membersihkan hati dan jiwa sebelum memasuki Ramadhan. “Salah satu manfaat zikir dan istighfar ini setiap saat adalah mengosongkan tempat-tempat setan di hati, jiwa dan tubuh kita,” terangnya.

Kegiatan berikutnya untuk menyambut Ramadhan sejak sya’ban ialah berbagi kabar gembira dan memotivasi sesama. Ini bisa dilakukan dengan bertukar informasi perihal keutamaan Ramadhan.

Tingkatkan frekuensi penempaan spiritual dari sekarang. Ramadhan adalah sekolah sekaligus training bagi orang- orang yang bertakwa. Pembiasaan sejak dini akan mempermudah program ibadah sepanjang Ramadhan, mulai dari hal-hal yang kecil, seperti menjauhi perkataan kotor, dan sifat buruk seperti iri, dengki, hasut, riya, takabur, ujub, marah dan sifat lainnya yang merusak amal.

‎Jika tak dihindari dari sekarang, ucapan-ucapan yang tak pantas dan sifat-sifat buruk itu bisa merusak pahala Ramadhan.

Kemudian, menyambung dan menjaga silaturahim. Mendatangi siapa saja yang pernah kita ingat dia pernah kita sakiti dan zalimi dalam kehidupan sehari-hari dengan perkataan, sikap atau perbuatan baik sengaja maupun tidak.

” Ada banyak faedah di balik memperkuat tali silaturahim.‎ Menyambung silaturahim akan memperbanyak rezeki dan menjadikan umur bertambah berkah. Bersilaturahim dan saling berjumpa untuk minta maaf, juga akan mengikis kesalahan-kesalahan yang pernah di perbuat.‎

Dengan demikian, saat Ramadhan tiba, kondisi diri telah siap dan bersih, karena kesalahan dengan sesama manusia sudah kita selesaikan, hanya tingga berharap ampunan dari Allah SWT,” sebutnya. []

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here