Beranda Nanggroe Ada “Sex Toys” di Barang Sitaan Bea dan Cukai Aceh

Ada “Sex Toys” di Barang Sitaan Bea dan Cukai Aceh

BERBAGI
Pemusnahan barang illegal hasil sitaan Bea dan Cukai Aceh. [Foto: Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Wilayah Aceh memusnahkan ribuan barang illegal hasil sitaan dan penindakan selama 2017-2018 di kawasan Kuta Malaka, Aceh Besar. Dari sejumlah barang yang dimusnahkan, terdapat salah satunya adalah sex toys atau alat bantu untuk sex yang menyerupai alat kelamin pria.

Sex Toys ini sitaan Bea Cukai Banda Aceh, yang dikirim melalui kantor pos,” kata Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh, Agus Yulianto, kepada wartawan, Selasa (3/4/2018), di Banda Aceh.

Barang-barang yang dimusnahkan Bea dan Cukai Aceh antara lain pohon kurma yang berjumlah 170 batang, buah kelapa 70 karung, ayam hidup 26 ekor, obat dan makanan unggas 1 lot, teh hijau 1 lot, kosmetik 16 karton / 550 pcs, air softgun 2 pcs, pakaian beks 75 karton, sex toys 5 pcs, rokok kretek 70.264 batang, tembakau iris 350 gram, makanan 10 pck, obat 92 pack, suplemen 13 botol, gula pasir 10.100 kilogram, beras ketan 125 kilogram, alat kesehatan gigi 1 box, serta kurma 360 kilogram.

“Sebagian barang-barang itu disita dari penyelundupan dari Thailand menggunakan kapal Ex. KM Tuna I yang ditangkap pada 14 Maret 2018 silam di Perairan Ujung Aceh Tamiang, seperti bibit pohon kurma, buah kelapa, ayam hidup, obat/vitamin, teh dan pupuk. Selebihnya merupakan hasil sitaan Bea dan Cukai Banda Aceh,” ujar Agus.

“Total barang yang dimusnahkan ini diperkirakan senilai Rp 450 juta dan potensi kerugian negara diperkirakan senilai Rp 150 juta,” tambahnya.

Sex Toys hasil sitaan Bea dan Cukai Aceh. [Foto: Reza Gunawan]
Kepala Kantor Bea dan Cukai Banda Aceh, Bambang Lusanto, mengatakan sex toys itu disita dari salah satu kantor pos di Banda Aceh. Bea dan Cukai, kata dia, hanya melakukan penyitaan barang tersebut dan tidak melakukan proses hukum kepada pemesan barang itu.

“Barangnya tidak diambil, kalau diambil dan diketahui siapa orangnya, paling kami hanya melakukan penindakan representatif yaitu hanya diperingatkan saja,” ujarnya.

Bambang mengakui temuan sex toys itu merupakan sesuatu yang tabu di Aceh. Namun, kata dia, Bea dan Cukai tidak berwenang dalam hal melakukan penelusuran dan penindakan terhadap siapa yang memesan alat bantu sex itu.

Sementara untuk barang-barang lainnya yang dimusnahkan tersebut, Bambang mengatakan merupakan hasil sitaan Bea dan Cukai Aceh di perairan Aceh (penindakan di laut), serta barang sitaan Bea dan Cukai Banda Aceh di jalur transportasi seperti pelabuhan dan bandara yang merupakan barang kiriman dan barang bawaan penumpang.

“Barang-barang ini disita karena tidak memiliki izin, baik cukainya maupun izin perdagangan. Dan juga izin karantina untuk ayam dan tumbuhan, izin kesehatan untuk alat-alat kesehatan, serta izin edar dari BPOM untuk makanan dan kosmetik,” ujarnya.

Hibahkan 23 Ton Bawang Merah untuk Warga

Selain memusnahkan barang illegal hasil sitaan selama 2017 dan 2018, Bea dan Cukai Aceh menghibahkan 23 ton atau 949 bawang merah layak konsumsi. Bawang merah senilai Rp 800 juta itu dihibahkan untuk Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan Pemerintah Kota Langsa.

“Bawang ini juga merupakan hasil sitaan dari Ex. KM Tuna I yang diangkut dari Thailand. Karena hasil pemeriksaan lab karantina Banda Aceh Bawang itu layak konsumsi, maka dihibahkan untuk warga,” kata Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh, Agus Yulianto.

Bawang merah hasil selundupan yang dihibahkan Bea dan Cukai Aceh untuk masyarakat. [Foto: Reza Gunawan]
Hibah Bawang Merah ini, kata Agus, merupakan hibah pertama pada 2018. Sedangkan tahun sebelumnya, kata dia, Bea dan Cukai Aceh telah menghibahkan 60 ton bawang merah di Juni 2017 dan 12 ton di Agustus 2017 untuk masyarakat Aceh.

“Bawang merah ini hanya boleh dikonsumsi, tidak boleh didistribusikan ke lahan pertanian untuk ditanam atau dijual. Kepada parat penegak hukum, diharapkan memantau agar bawang ini bisa sampai kepada masyarakat,” ujarnya.

Selama 2018 ini, kata Agus, Bea dan Cukai Aceh telah menggagalkan dua upaya penyelundupan bawang merah, yang menggunakan kapal Ex. KM Tuna I dan Ex. KM Satrio.

“Untuk tersangka awak kapal dan nahkodanya sedang dilakukan penyidikan untuk proses hukum lebih lanjut ke pengadilan. Mereka terancam hukuman penjara paling sedikit satu tahun dan denda minimal 50 juta rupiah,” ujarnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here