Beranda Nanggroe Partai Perindo Aceh akan Beri ‘Mahar’ untuk Calon Legislatif

Partai Perindo Aceh akan Beri ‘Mahar’ untuk Calon Legislatif

305
BERBAGI
Ketua DPW Partai Perindo Aceh, Hamdani Hamid. [Foto: Reza Gunawan]

BANDA ACEH – Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Perindo Aceh, Hamdani Hamid, mengatakan Partai Perindo tidak akan menentukan ‘mahar politik’, bagi masyarakat yang ingin maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2019 mendatang. Bahkan, Partai Perindo akan memberikan mahar bagi para caleg yang ingin mencalonkan diri dari partai tersebut.

“Kalau soal mahar, malah kami yang akan memberi mahar. Namun maharnya seperti apa, kami tidak ingin mendahului  kebijakan yang lebih tinggi dari kami (DPP Perindo),” kata Hamdani Hamid, dalam konferensi pers yang digelar di Kantor DPW Perindo Aceh, Senin (2/4/2018), di Banda Aceh.

Ketika ditanyai apakah para calon legislatif dari Partai Perindo nantinya akan disubsidi untuk kebutuhan kampanye dan pencalonannya, Hamdani mengatakan tidak ingin merincikannya.

“Saya tidak ingin menyebutkannya, nanti menjadi pegangan, takut nantinya tidak sanggup dipenuhi. Yang jelas jargon kami ‘tanpa mahar, malah kami memberi mahar’ cukup itu. silakan masyarakat menginterpretasi sendiri. Apa itu, belum dapat kami jelaskan,” ujarnya.

Hamdani menambahkan, persoalan mahar itu tentunya tidak akan melanggar regulasi dan perundang-undangan yang  berlaku dalam pelaksanaan Pemilu.

“Kita tunggu saja keputusan dari Pengurus Pusat Perindo. Yang jelas ini tidak akan melenceng dari aturan yang  ada,” ujarnya.

Dalam perekrutan bakal caleg, Hamdani menjelaskan, DPW Perindo Aceh telah membuka pendaftarannya sejak Februari  lalu, yang akan berlangsung pada akhir April 2018 mendatang.

“Mengenai syaratnya, harus memiliki kartu tanda anggota Perindo dan mengajukan diri sebagai caleg, serta menyiapkan syarat umum lainnya untuk pendaftaran. Hanya itu saja syaratnya, tidak ada syarat khusus lainnya,” ujar Hamdani. “Yang terpenting, calegnya bukan hanya dikenal, tetapi juga harus disukai masyarakat.”

Soal target, Hamdani mengatakan Perindo Aceh tidak terlalu menargetkan kursi yang berlebihan pada Pemilu 2019 nantinya.

“Kami sadar dan tau diri dengan kekuatan partai lokal di Aceh, yang tidak mungkin kami ungguli. Jadi soal kursi kami hanya menargetkan menang setara, di mana jika partai lain dapat kursi, maka Perindo juga harus dapat. Yang jelas tidak terlalu muluk-muluk targetnya,” ungkapnya.

Hamdani tak menampik Partai Perindo dalam hal meraih suara di Aceh yang merupakan daerah syariat islam dapat dilakukan dengan mudah. Hal itu dikarenakan partai itu didirikan oleh Hary Tanoesoedibjo yang merupakan non muslim.

“Namun dalam berpolitik, kami tidak mengait-ngaitkan agama. Partai Perindo sama kedudukannya dengan partai politik lain di Indonesia yang berazaskan Pancasila,” ujarnya.

Persoalan ini, kata Hamdani, merupakan suatu tantangan bagi Perindo Aceh dalam hal merekrut anggota dan calon legislatif. Namun dirinya optimis, masyarakat Aceh akan dapat menerima jika nantinya dijelaskan.

“Ini tidak menjadi suatu hal yang berat, tetapi menjadi tantangan untuk meyakinkan masyarakat Aceh. Kami tidak akan berandai-andai atau mencari alasan untuk pembenaran, namun persoalan agama itu sudah diatur di Alquran yaitu Lakum dinukum waliadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku),” ujarnya.

“Sekali lagi, kami bukan untuk pembenaran, apalagi menyangkut akidah dan syariat itu patut kita hormati, apalagi di masyarakat Aceh sudah mengalir darah muslim.”

Hamdani juga mengatakan Partai Perindo tetap menghormati kekhususan Aceh, yang merupakan daerah syariat islam. Perindo Aceh juga nantinya akan mewajibkan bakal calon legislatif yang beragama islam untuk mampu membaca Alquran.

“Hari Tanoe sebenarnya ada dasar islam, orang tuanya mualaf yang merenovasi Masjid Cheng Ho. Soal akidah ini, kita berdoa saja semoga bisa bersama-sama kita (menjadi muslim). Persoalan akidah ini kami tidak bisa mengintervensi, semoga saja Allah memberi hidayah kepada beliau,” ujarnya.

Hamdani menegaskan, dalam berpolitik Partai Perindo Aceh akan murni berpolitik, di mana tidak akan mengaitkannya dengan agama. Soal agama, kata dia, itu kembali kepada individu masing-masing.

“Yang terpenting bagi kami bagaimana masyarakat Aceh bisa sejahtera, di mana yang tidak ada kerja bisa kerja dan yang tidak ada pendapatan bisa ada pendapatan,” ujarnya. “Dalam waktu dekat juga kami akan membedah rumah-rumah masyarakat miskin di Aceh,” tambahnya. [Reza Gunawan]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here