Beranda Nanggroe Kasus Demam Berdarah Dengue Tinggi di Aceh

Kasus Demam Berdarah Dengue Tinggi di Aceh

BERBAGI
Ilustrasi nyamuk penyebar virus dengue

BANDA ACEH – Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih tergolong tinggi di Aceh. Pada 2017, terdapat 1.218 kasus DBD di seluruh Aceh yang menyebabkan 7 di antaranya meninggal dunia.

“Angka di 2017 ini sedikit menurun dibandingkan 2016 yaitu 2672 kasus, yang 21 orang dari jumlah itu meninggal dunia. Walaupun menurun, kami lihat setiap tahunnya kasus ini tinggi di Aceh,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, Abdul Fatah, Senin (5/3/2018), di Banda Aceh.

Kasus DBD tertinggi di 2017, Abdul Fatah menjelaskan terjadi di wilayah Bireuen dengan jumah 410 kasus , disusul Aceh Besar 389 kasus dan Pidie 367 kasus. “Itu yang tiga besarnya,” kata Abdul Fatah.

Sementara di 2016, Abdul Fatah mengatakan kasus DBD tertinggi terjadi di Aceh Tengah dengan jumlah 293 kasus, disusul Lhokseumawe 280 kasus dan Bireuen 278 kasus. Sedangkan di 2015, terdapat 1516 kasus di seluruh Aceh, yang 6 orang di antaranya meninggal dunia.

Ketika ditanyai untuk kasus DBD di 2018, Abdul Fatah mengatakan hingga Februari, kasus DBD sudah mencapai 120 kasus. Dari jumlah itu, daerah tertinggi kasus DBD yaitu Pidie 29 kasus, Aceh Barat 17 kasus, dan Sabang 9 kasus. “Untuk daerah lain di bawah 7 kasus,” ujarnya.

Meski kasus DBD tergolong tinggi di Aceh, Abdul Fatah mengatakan, namun penangannnya baik, di mana hal itu dilihat dari persentase kematian penderita DBD yang di bawah satu pesen. “Jika pesentase kematiannya di bawah 1 persen, maka penangannya bagus dan cepat, sehingga angka kematiannya sedikit,” ujarnya.

Penyakit DBD, Abdul Fatah menjelaskan disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti. “Penderita baru akan terinfeksi jika digigit nyamuk aedes ke tiga kalinya,” ujarnya.

Untuk penangannya, Abdul Fatah mengatakan, paling utama harus dilakukan oleh masyarakat, yaitu dengan membasmi jentik-jentik nyamuk.

“Kalau nyamuk besar, walaupun difogging, itu tidak akan maksimal. Paling sebentar saja asapnya, itupun yang mati juga hanya nyamuk dewasa, sedangkan jentik nyamuk tidak mati, yang akhirnya dengan cepat berkembang menjadi nyambuk dewasa,” ujarnya.

“Jadi yang utama adalah memerantas sarang nyamuk denga 3 M Plus itu (menguras bak air, menutup tempat penampungan air, dan menyingkirkan barang bekas). Jika ada kolam, maka ditaruh ikan-ikan pemakan jentik dan menyemprot anti nyamuk pada pagi dan sore hari,” tambahnya.

Abdul Fatah juga mengimbau pemerintah kabupaten/kota untuk mengefesienkan petugas jumantik untuk memantau jentik nyamuk di areal perumahan masyarakat. “Selain itu tidak ada cara lain untuk memberantas kasus DBD ini di Aceh,” ujarnya.

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here