Beranda Ekonomi 60 Persen Ikan Ekspor Medan Dipasok dari Aceh

60 Persen Ikan Ekspor Medan Dipasok dari Aceh

BERBAGI
Ikan tuna hasil tangkapan nelayah Aceh. [Foto: Metro]

BANDA ACEH – Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Aceh, Diky Agung Setiawan, mengatakan Aceh adalah pemasok utama untuk ekspor ikan yang dilakukan melalui Medan, Sumatera Utara.

“Ikan-ikan yang dipasok dari Aceh berjumlah sekitar 60 persen dari total ekpor ikan yang diekspor Medan ke berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Walaupun ikan itu hanya ‘transit’ di Medan, tetapi berdampak kepada meningkatnya devisa atau pendapatan daerah. Ini mengakibatkan pendapatan Aceh dari sektor perikanan minim. Aceh yang punya ikan, tetapi Medan yang ambil manfaat,” kata Diky, Senin, 26 Februari 2018, di Stasiun BKIPM Kelas I Aceh, Blang Bintang, Aceh Besar.

Seharusnya, kata Diky, Aceh harus mampu untuk mengespor langsung hasil tangkapan nelayan. Hal ini menurutnya, akan berdampak kepada peningkatan pendapatan Aceh dari sektor perikanan.

Diky menilai, Aceh memiliki beragam andalan perikanan kualitas ekspor seperti tuna, kerapu, lobster, udang, kepiting, serta beragam hasil perikanan lainnya yang tersebar mulai dari Sabang hingga perbatasan Medan.

“Total ‘lalu-lintas’ ikan yang diekspor melalui Medan per tahunnya mencapai 1 triliun lebih. Untuk berapa pendapatan yang dihasilkan Aceh dari penjualan ikan ke wilayah Medan saya tidak tahu. Kalau khusus untuk pendatapan dari karantina, Aceh hanya mendapatkan 70 juta per tahunnya yang disetor untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan,” ujar Diky.

“ini yang akan kami upayakan peningkatannya, karena jika pendapatannya meningkat, maka yang dikembalikan dari kementerian untuk Aceh juga lebih besar. Jika Aceh bisa memiliki fasilitas ekspor sendiri, tentunya pendapatan dari karantina bisa mencapai 1 miliar, bahkan lebih.”

Diky tidak menampik untuk mewujudkan Aceh mampu mengekspor langsung ikan ke luar membutuhkan proses yang panjang. Hal itu karena salah satu yang dibutuhkan adalah sarana prasarana khusus mikrobiologi untuk menguji kualitas ikan yang diekspor.

“Untuk tuna misalnya, butuh pengecekan histaminnya. Karena jika kadar histaminnya berlebihan, maka akan menyebabkan gatal-gatal. Ini yang tidak disukai orang Eropa khususnya. Untuk itu, perlu ada pengujian khusus yang menjamin kualitas tuna Aceh histaminnya aman (tidak berlebihan),” ujarnya.

Diky mengatakan, BKIPM Aceh ke depannya juga akan berupaya mengubah sistem dan membangun komunikasi dengan pihak terkait, agar Aceh mampu mengeskpor ikan langsung, tanpa harus melalui Sumatera Utara. Pihaknya juga akan meningkatkan pengawasan, agar kualitas hasil perikanan Aceh terbebas dari virus dan penyakit, serta menjaga masuknya ikan luar yang akan merusak ekosistem di Aceh.

“Untuk kasus di Aceh saat ini, kami mendapatkan laporan adanya ikan kerapu yang terjangkit virus, sehingga  tidak bisa diekspor. Ini yang sedang kami dalami apa penyebabnya untuk ditanggulangi,” ujar Diky.

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here