Beranda Lingkungan Dugaan ‘Misi’ Lain di Pembangunan PLTA Tampur

Dugaan ‘Misi’ Lain di Pembangunan PLTA Tampur

BERBAGI

BANDA ACEH – Pembangkit Listrik Tenaga Air rencananya akan dibangun Pemerintah Aceh di Desa Tampur, Kecamatan Pining, Gayo Lues. Pembangunan pembangit listrik itu dilakukan oleh PT Karmizu asal Hongkong. Para aktivis lingkungan di Aceh menduga ada ‘niat’ lain dari pembangunan PLTA itu, karena pengeboran yang dilakukan saat ini diduga sudah melenceng dari perencanaan atau titik pembangunan bendungan.

Persoalan ini mencuat dalam diskusi yang digelar Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) terkait dinamika pembangunan PLTA Tampur, Senin (19/2/2018), di Banda Aceh. Imam Desa Tampur Paloh dalam diskusi itu mengatakan di lokasi pembangunan PLTA Tampur sedang dilakukan pengeboran. Para pekerja kasar yang bekerja untuk perusahan itu meyaoritasnya berasal dari luar daerah.

“Hanya beberapa saja orang di desa kami yang bekerja di situ. Itupun hasil dari pengeboran tidak boleh sedikitpun di bawa keluar oleh pekerja. Tidak tahu mereka bawa ke mana semua hasil dari pengeboran itu,” ujarnya.

Husaini dari Yayasan HAkA mengatakan dari informasi yang diperolehnya, para pekerja akan didenda sebesar Rp 3 juta, jika kedapatan membawa material dari lokasi pengeboran. “Ini mengindikasikan ada ‘sesuatu’ sumbar daya alam lain di kawasan itu yang kita tidak ketahui,”ujarnya.

Sementara itu Fadlun dari Dinas Pengairan Aceh mengatakan pihaknya telah turun langsung ke lokasi pembangunan PLTA Tampur. Di sana, menurutnya, sudah terdapat 14 titik pengeboran, yang kedalamannya rata-rata di atas 183 meter.

“Kami sudah minta kelengkapan dokomennya seperti data hidrologi, data ketersediaan air, serta sejumlah dokumen pendukung lainnya tetapi sampai sekarang belum diberikan,” ujarnya.

Selain itu, kata Fadlun, pihaknya di lapangan juga menemukan lokasi titik pengeboran sudah melenceng dari titik awal perencanaan pembangunan asdem (bangunan bendungan). Hal itu menimbulkan dugaan adanya ‘misi’ lain dari pembangunan pembangkit listik, seperti untuk mendapatkan sumber daya alam di kawasan itu.

Aktivis lingkungan Aceh dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Aceh, TM Zulfikar, ketika ditanyai KBA.ONE, apakah ada sumber emas dan hasil alam lainnya di kawasan itu mengatakan di Kawasan Ekosistem Leuser memang terdapat sumber-sumber untuk pertambangan. Namun menurutnya, untuk kawasan pembangunan PLTA Tampur belum diketahui pasti, karena harus ada survey untuk membuktikan hal tersebut.

“Jadi tidak salah juga jika muncul dugaan dari beberapa orang, mengapa pemerintah semangat sekali membangun pembangkit listrik di kawasan lindung ini. Padahal banyak kawasan lain di Aceh, yang masih bisa dibangun pembangkit listrik,” ujarnya.

TM Zulfikar mengatakan para aktivis dan lembaga peduli lingkungan di Aceh memang tidak memfokuskan persoalan adanya sumber lain di kawasan itu, namun lebih kepada penyelamatan kawasan lindung yang menjadi lahan pembangunan PLTA itu. Menurut dia, sumber daya alam bisa saja diambil, jika tidak ada sumber lain untuk pendapatan Aceh.

TM Zulfikar berharap Pemerintah Aceh mengkaji kembali pembangunan proyek PLTA tersebut. Dia juga mengajak LSM Lingkungan untuk menggugat pembangunan proyek yang mengamcam ekologi dan keanekaragaman hayati di kawasan itu.

“Izin lingkungannya belum ada. Memang untuk eksplorasi setahu saya boleh dilakukan, walaupun izin lingkungan belum ada. Ke depan, kalau izinnya keluar tetapi banyak dokumen yang tidak dilengkapi atau melanggar, akan kami gugat sebagai kasus kejahatan lingkungan,” ujarnya.

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here