Beranda Ekonomi Menebar ‘Ayam Lepas’ ke Penjuru Dunia

Menebar ‘Ayam Lepas’ ke Penjuru Dunia

BERBAGI

Suparno, pemilik Rumah Makan (gerai) Ayam Lepas bermimpi untuk mengembalikan kejayaan Aceh masa lampau. Di mana dahulu, orang mengenal Aceh akan mengingat ‘Dagang’. Ya, Aceh dahulunya memang pernah menjadi satu daerah dagang internasional, yang banyak disinggahi orang-orang untuk mencari rempah-rempah dan kekayaan alam Aceh lainnya.

Pria kelahiran 31 Desember 1976 Lubuk Pakam-Deli Serang ini, juga bermimpi menjadikan tempat usahanya yang berawal dari sebuah kota di Aceh, dapat mendunia seperti halnya KFC yang berawal dari sebuah kota di Amerika Serikat yakni Kentucky, yang saat ini telah mendunia.

“Saya juga terinspirasi dari Harland Sanders yang mendirikan KFC ini, dia dengan usahanya itu bisa mendunia. Saya ingin Ayam Lepas yang berawal dari sebuah kota di Aceh juga bisa mendunia,” kata pendiri gerai Ayam Lepas saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Keinginan ‘mengharumkan’ nama Aceh dilakukannya, karena Aceh sudah mendarah daging baginya. Ia sudah berada di Aceh sejak berumur empat tahun. Sebelum berhijrah ke Banda Aceh, Suparno pernah tinggal di wilayah pedalaman Aceh Utara yakni Simpang Keuramat.

Suparno tidak menyangka usaha yang ditekuninya bisa seperti sekarang. Gerai Ayam Lepas yang awalnya hanya tiga yaitu di Lampriek, Darussalam, dan Sigli kini sudah berjumlah 70 gerai yang tersebar di Aceh, Jakarta, hingga Malaysia, dengan jumlah pekerja 1100 orang.

Namun, di balik kesuksesannya itu tersimpan perjalanan pahit. Suparno mengaku saat masih berada di bangku kelas dua sekolah dasar, dirinya harus membantu orang tuanya berjualan. “Saat kelas 2 SD saya sudah usaha keliling, menjual kue dan hasil ladang orang tua saya seperti timun dan lainnya ke Pasar,” ujarnya.

Mulai dari SD, “dunia dagang” terus ditekuni Suparno hingga dirinya menempuh pendidikan Menengah Atas, namun dagang yang ia tekuni sudah beranjak ke berbagai produk-produk makanan. “Tahun 1997 saya ke Banda Aceh untuk kuliah, di saat itulah saya mulai berikir untuk serius menekuni dunia usaha, karena orang tua saya tidak mampu seratus persen untuk membiayai kuliah. Maka saya harus mencari dana tambahan agar bisa kuliah,” cerita Suparno.

Sekitar tahun 1994, Suparno mengalami hal pelik saat Aceh dilanda konflik berat, di mana orang tuanya harus keluar dari Aceh. Untuk itu, ia harus berjuang seorang diri di Aceh untuk bertahan hidup dan membiayai kuliahnya.

“Sekitar tahun 2001, saat Indonesia dilanda krisis, saya menggeluti bisnis penjualan Sampoa. Saya bersama teman saya yang berjumlah delapan orang mencoba untuk menggeluti bisnis Sampoa ini,” ujarnya.

Suparno bersama rekannya menggeluti bisnis penjualan Sampoa itu dengan hanya bermodalkan empat juta rupiah. “Hanya dengan modal 4 jtua ditambah pinjaman 10 juta kami bisa menghadirkan cabang di Banda Aceh. Alhamdulillah, dengan waktu 6 bulan kami sudah balik modal dan bisnis Sampoa sudah punya pasar,” ujarnya.

Selain bisnis Sampoa, Suparno yang pada semester lima kuliahnya telah menikahi Endang Sumiati, juga menggeluti usaha penjualan makanan ringan. “Istri saya membuat kue dan bubur, yang kami taruk di warung-warung kopi,” ujar usahawan sukses Aceh ini.

Namun tak lama kemudian, kata Suparni, bisnis Sampoa yang digeluti bersama temannya itu mulai bermasalah. Hal itu karena Suparno dan teman-temannya sudah tidak sepaham dalam menjalankan bisnis itu. “Saya tidak mau ribut, akhirnya saya memilih mengundurkan diri. Tak lama setelah saya keluar, bisnis Sampoa itu hancur karena penerusnya tidak bisa menjalankannya dengan baik,” katanya.

Setelah keluar dari bisnis Sampoa, lanjut Suiparno, ia mendalami ilmu manajemen keuangan. “Ilmu mengelola keuangan ini sangat penting, karena bagaimana mengelola uang sedikit atau terbatas untuk dikembangkan. Saya juga pernah mengambil kursus BRR. Alhamdulillah saat masa Tsunami tahun 2004, saya dipercayakan untuk mengelola beberapa bantuan dari beberapa NGO, yang salah satunya BRR,” ujarnya.
Untuk bisnis Ayam Lepas, Suparno mengaku baru menekuninya pada tahun 2009.

“Sebelumnya saya sudah ada rumah makan yang bentuknya Franchise namum akhirnya ada konflik. Saya disuruh mandiri oleh pemililik Franchise itu. Saat itu saya bingung, karena sudah ada rumah makan tetapi tidak memiliki brand untuk menjual makanan saya. Butuh waktu hampir tiga bulan untuk mencari nama dan meracik bumbu untuk ayam yang akan saya jual, yang akhirnya ketemu dan saya beri nama Ayam Lepas,” ujarnya.

Gerai Ayam Lepas di Banda Aceh

Awal pendirian rumah makan ‘Ayam Lepas’, Suparno mengaku kesulitan, karena dirinya harus memperkenalkan brand baru. “Awalnya tidak terlalu ramai, namun karena banyak relasi BRR, NGO, dan teman-teman bank, merekalah yang menjadi pelanggan tetap,” imbuhnya.

Beberapa teman, kata Suparno, menyarakankan untuk mengembangkan usahanya di luar Aceh. “Saya hanya mengiyakan, tidak langsung melakukannya. Saya hanya mengembangkan di Aceh dahulu, baru setelah itu ke luar Aceh,” ujarnya.

Saat membuka gerai Ayam Lepas di luar Aceh, Suparno mengatakan hal itu bukanlah hal yang mudah. “Buka di luar Aceh tidak langsung berhasil. Ada beberapa gerai yang saya buka, seperti di medan, malang, dan beberapa daerah lainnya yang harus tutup. Baru buka di Jakarta, saat buka yang kedua baru berhasil,” ujarnya.

Permasalah tutupnya beberapa gerai Ayam Lepas, kata Suparno, bukan karena produk yang dijualnya tidak laku, melainkan karena tempat yang dipilihnya kurang sesuai atau strategis. “Setelah dievaluasi, saya terus mencoba mengembangkan gerai ke berbagai daerah dengan semangat dan penuh hati-hati memilih lahan untuk gerai baru. Alhamdulillah, sekarang sudah berjumlah 70 gerai, satu berada di Penag-Malaysia,” kata Suparno. “Dalam waktu dekat, akan dibuka gerai baru di Kuala lumpur dan Johor,”.

Ketika ditanyai soal pendapatannya, Suparno hanya tersenyum kecil. “Ya Alhamdulillah, untuk omset tidak banyak, paling penghasilannya sedikit di atas gubernur. Kalau gubernur sekian, ya paling saya di atasnya sedikit,” coloteh Suparno sambil tersenyum. “Yang paling penting bukan penghasilannya, tetapi saya bahagia bisa mempekerjakan seribu lebih karyawan ini.”

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here